tak tahu harus menulis apa...
kau menyimpannya semua dalam hatimu dan aku tak kuasa mengungkap,
kita sama-sama tahu meski bungkam !!
ambillah seluruh kata yang kau tahu,
karena aku telah kehilangan kataku.
satu, dua, tiga !!
aku tidak sedang menghitung waktu,
tapi justru menghitung satu persatu kataku yang lenyap..
ambillah seluruh kata yang kau tahu,
karena aku telah kehilangan kataku.
a, i, e, o, u
aku tidak sedang mengeja,
tapi aku sedang berusaha merangkai kataku yang berserakan..
tik..tok..tik..tok..!!!
ya, aku sedang menghitung waktu !!
menunggu masa membisukan kata..
.....
waktu ku telah bisu
aku kehilangan kata.
"Sesempurna apa pun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan." ‒Filosofi Kopi [1996]
Senin, 08 Desember 2014
Sabtu, 25 Oktober 2014
Daun Rindu
dan aku termangu di sini.
setengah menganga menyedot angan yang tersisa
kau menari tepat di atasku,
saling menggesek memori.
dan aku termangu di sini.
setengah menganga menyerap rindu yang menggenang
kau berayun tepat di atasku,
seret angin sembunyi ingin.
kau masih menari dalam ayunan angin
meski ku ingin, memoriku hanya mampu merindu.
ada kau di sini, tepat di sebelahku
diam, tapi paham makna sendiri !
kutitip satu kata rindu di pucukmu,
dan kau kembali menari dalam ayunan angin
berhenti tepat dalam pusara.
menyusup, menyimpan rinduku,
kering bersama tanah yang pucat !
setengah menganga menyedot angan yang tersisa
kau menari tepat di atasku,
saling menggesek memori.
dan aku termangu di sini.
setengah menganga menyerap rindu yang menggenang
kau berayun tepat di atasku,
seret angin sembunyi ingin.
kau masih menari dalam ayunan angin
meski ku ingin, memoriku hanya mampu merindu.
ada kau di sini, tepat di sebelahku
diam, tapi paham makna sendiri !
kutitip satu kata rindu di pucukmu,
dan kau kembali menari dalam ayunan angin
berhenti tepat dalam pusara.
menyusup, menyimpan rinduku,
kering bersama tanah yang pucat !
Pucuk Kemarau
dari pucuk-pucuk kemarau
ada setetes asa di sana
menggambarkan siluetmu di balik jendela
dari pucuk-pucuk kemarau
merekah bunga kerinduan pada hembusan nafasmu
dari pucuk-pucuk kemarau
masa hanya tinggal asa
mengeringkanmu dalam dekap kelopak rindu
membungkus masa pada tiap embun
sekedar meratapi kemarau yang kian ke pucuk
tenang, dalam rapalan do'a
jika aku harus merapal
kurapalkan kau jadi gerimis malam ini
menjadikan pucuk-pucuk tak lagi bertahan di kemarau
tapi merekah di ujung hujan
ada setetes asa di sana
menggambarkan siluetmu di balik jendela
dari pucuk-pucuk kemarau
merekah bunga kerinduan pada hembusan nafasmu
dari pucuk-pucuk kemarau
masa hanya tinggal asa
mengeringkanmu dalam dekap kelopak rindu
membungkus masa pada tiap embun
sekedar meratapi kemarau yang kian ke pucuk
tenang, dalam rapalan do'a
jika aku harus merapal
kurapalkan kau jadi gerimis malam ini
menjadikan pucuk-pucuk tak lagi bertahan di kemarau
tapi merekah di ujung hujan
Minggu, 07 September 2014
Secangkir Cinta dalam Semangkuk Mie
Aku
RINDU
Kau
seduh aku dalam gelas
Di
aduk pelan
Lalu
kau beri sedikit gula.
Saat itu, kau tersenyum padaku. Menanyakan
apakah teh buatanmu sudah manis atau belum ? dan seperti biasa, anggukanku akan
membuatmu puas dan merasa bangga telah melayaniku.
*
Pagi ini kau membangunkanku dengan aroma teh
mu yang khas. Kau pun tersenyum dan memaksaku segera menanggalkan
mimpi-mimpiku, meski kau tahu pasti mimpiku tak lain hanyalah tentangmu.
Tentangmu wanitaku yang tak pernah hilang dari pelupukku. Kuteguk teh buatanmu.
Tak peduli pekat, hanya manis yang meresap karena kau menemaniku menyeruputnya.
Pagi ini kau tampak lain dari biasanya, kau
terlihat begitu manis dan menawan. Entah kenapa, mungkin kau ingin menarikku
lebih dalam terhadapmu. Tenanglah wanitaku, kau akan terus menjadi wanitaku
yang terindah. Kau mengusap keningku dan mengecupnya sehingga membuat lelaki di
sebelahku mencibir cemburu. Ah, biar saja ! kau tahu itu abangku, biar saja dia
cemburu. Toh akulah yang justru berhasil menarikmu kepelukanku, begitupun
sebaliknya.
*
Kali ini kau nampak lelah, ingin ku genggam
tanganmu, lalu kuusap keningmu dan mengecupnya. Tapi itu ku tahan, bukan karena
terlalu tega, tapi karena aku tak tahu bagaimana caranya. Biarlah aku
menanggung lelahmu dengan caraku. Dengan perasaan tidak enakku dan segenap
cinta –kasih yang kucipta khusus untukmu.
“Ini sebotol teh untuk kau bawa. Jangan lupa
di minum dan cepat pulang!” kau menyodorkanku sebotol teh buatanmu.
Ah, pagi ini aku sudah menyeruput habis
secangkir tehmu dan sekarang kau menodongku dengan botolanmu. Tapi tak apa,
karena dengan secangkir itu aku menyimpan tetes demi tetes cintaku.
*
“Makanlah !” Ucapmu getir saat menyajikan
makan siang untukku.
Semangkuk mie kuah yang dibagi dua dengan
abangku. Membuat sepasang mata kembali menguliti wajahku dengan geram. Marah
saja, kalau kau tak mau maka semuanya akan menjadi milikku.
Kau sangat tahu aku, kau tahu aku sangat suka
mengasup mie kuah buatanmu. Meski dengan begitu aku harus bertengkar dengan
abangku yang juga menginginkan perhatian yang sama darimu. Aku egois sebagai
seorang adik, tapi tak akan ku serahkan kau begitu saja dalam pelukannya.
Dan saat pertengkaran itu berlangsung, kau akan
memandangku lekat, seolah berbicara dengan mataku bahwa apapun yang terjadi kau
selalu milikku. Itu membuatku tenang. Terima kasih wanitaku, kau pandai
membacai air wajahku dan aku tak perlu berlama-lama dengan amarahku.
*
Hujan masih saja berinai, akupun ada disana.
Diantara hujan menarikan tarian cintaku padamu. Kau tersenyum geli,
menertawakan kekanakanku. Aku memang masih kanak-kanak, terlebih bila
berhadapan denganmu. Aku masih saja menari dan kau tahu ? abangku ikut pula
menari bersamaku, betul-betul keras kepala. Dia itu sudah tahu kalau kau
milikku, tapi dia masih saja mencoba menarikmu dariku. Dan kali ini aku harus
mengalah. Kuserahkan hujan untuk abangku agar aku bisa menikmati dekapan
hangatmu malam ini.
“Kau tahu hujan ?” tanyamu padaku.
“Maksudnya ?” aku memang tak mengerti
maksudmu, aku justru hanya ingin menertawai pertanyaan polosmu.
“Dalam hujan kau belajar rasa sayang, dalam
hujan kau menemukan rasa sayang dan dalam hujan kau menciptakan rasa sayang
itu.” Aku diam, selain karena tidak mengerti, tapi juga kantuk telah
menggerogoti mataku. Aku hanya memelukmu erat, sangat erat dari biasanya,
dekapanmu begitu hangat hingga sulit aku tepis. Biarkan aku untuk terus
memelukmu wanitaku.
*
Bulan ini adalah penghujung tahun, dimana
hujan sedang semangat-semangatnya bersenandung bersama petir, dan angin yang
kencang. Dan aku masih disini, dalam dekapan hangatmu. Kau membelai rambut ku,
membangunkanku untuk segera memulai aktifitasku. Andai aku bisa memilih,
izinkan aku untuk tetap disini, didalam selimut yang membungkus kita berdua.
Tapi, untuk menyenangkan hatimu kulangkahkan
kakiku ke kamar mandi mengutuki cuaca yang dingin sambil terus membayangkan
kehangatan pelukmu.
Seperti setiap pagi yang lain, kau ada
disana. Di sudut meja makan, menungguku bersama abangku yang sentimental dengan
secangkir teh buatanmu. Secangkir teh yang kusisihkan satu tetes untuk
secangkir cintaku.
Tak ada percakapan pagi ini, bukan hanya hawa
di luar sana yang menjadi dingin, tapi di dalam pun demikian, semua beku, serasa
secangkir cintaku tengah aku masukkan dalam kulkas.
Kau aneh ! kau beku ! kau diam ! kau biarkan
aku merinaikan air mataku. Kau paksa aku melihatmu mengecup abangku. Aku tak
mau ! kau hanya milikku. Aku menangis sejadi-jadinya. Ku pecah beku ini bersama
secangkir cintaku yang seketika beku. Semuanya pecah, seolah beling yang
mengiris dadaku. Ada sesak yang tak kutahu di mana. Dan aku memilih pergi !
*
Entah kenapa hari ini hujan tak
henti-hentinya mengangguku. Serta obrolan kita tentang hujan malam itu terus
saja memekakkan telingaku. Ku coba menepisnya dengan mendengarkan lagu
sekencang-kencangnya. Tapi, hujan masih lebih heboh di luar sana. Aku mengalah,
aku harus pulang meski ada sesak yang tak ku tahu dimana.
Ku temui abangku tengah duduk memeluk lututnya
seperti mengutuki hujan. Ada banyak orang dalam rinai ini. Ah, bukan ! ini
bukan rinai yang biasa. Ku lihat mata sembab abangku menyatu dengan kubangan
air yang ada dihadapannya seraya bercermin meratapi penyesalannya telah
membuatku marah pagi ini.
Ini sudah sore, bahkan telah menjelang magrib
dan aku tak menemukanmu. Seharusnya aku yang marah hingga aku harus
meninggalkanmu dulu untuk menghilangkan sesak itu. Tapi, kenapa justru kau yang
pergi. Sesak ini makin menjadi, ada linang yang terus membasahi sudut mataku
hingga berinai dengan hujan.
Ah, rupanya abangku tidak menyesal karena
membuatku marah justru ia merindukan wanitaku yang pergi. Kau beruntung abang,
sempat mengecap hangatnya kecupan dari sepotong bibir wanitaku. Itu jatahku
yang kau rebut tepat dihadapanku, dan karena tak enak padaku, maka ia memilih
pergi. Wanitaku pergi !
*
Anak-anak
bermain hujan, mereka lupa akan kehilangan
Saat
masih kecil, aku dan abangku senang mengasup mie kuah
Kadang
semangkuk untuk mie dibagi dua
Aku
tahu dan abangku juga
Kalau
ibu kadang curang membagi.
Aku
kadang mendapat lebih banyak kuah dari abangku
Dan
karena itu, kami kadang bertengkar.
Aku
menangis, karena kalah atau kena pukul
Kali
ini, Bu, aku menangis
Karena
kehilanganmu, dan hati yang masih terpukul
Aku
ingin menjadi semangkuk mie itu
Lalu
kubagi dua
Satu
untuk ibu, satu untuk Tuhan
Walau
sebenarnya Tuhan juga tahu aku curang
Karena
memberimu lebih banyak kuah dari mataku.
Ini sudah tahun ke sepuluh, dimana aku
merindukan secangkir teh dan semangkuk mie buatanmu. Adapula botol air minumku
yang telah kering dan usang dimakan usia, sudah lama kau meninggalkanku
wanitaku, wanitaku yang tak pernah sedetikpun lepas dari pelupukku.
Aku ingat saat kau mendekapku dalam selimut
yang membungkus kita berdua sambil terus bercerita tentang makna hujan yang
kubawa hingga terlelap. Saat itu aku masih belum mengerti, dan sekarang aku
tahu kau ada dalam rinai karena aku menemukan rasa di sana. Kau menyimpan rasa
dalam hujan dan aku menciptakan rasa itu untukku.
Saat itu aku memecahkan secangkir teh ku, dan
selayaknya beling itu telah mengirisku. Aku luka saat itu dan telah kubeli
cangkir baru untuk menyimpan tetesan tehmu yang kucampur hujan untuk aku
persembahkan padamu di penghujung hujan. Ada secangkir teh dalam mangkuk
mie-mu, mangkuk mie yang kuisi kuah air mataku dan abang.
*
Saat itu, kau tersenyum padaku. Menanyakan
apakah teh buatanmu sudah manis atau belum ? dan seperti biasa, anggukanku akan
membuatmu puas dan merasa bangga telah melayaniku.
Kutepis bayang itu, dingin merasuk hingga
rusuk. Aku menggapai tanganmu dan kaupun mengenggamnya dengan erat. Kau menarik
tanganku pelan mengajakku berjalan menikmati embun pagi ini.
Kupandang lekat-lekat wajahmu, ku baca setiap
linang di sudut matamu. Sepertinya kau kelelahan, tak kuasa aku memandang. Kau
masih saja tersenyum. Maaf aku membuatmu kelelahan, aku terlalu rewel pagi ini.
Itu karena aku cemburu pada kedua lelaki yang sedari tadi memaksamu
memperhatikannya. Tak lain ia abangku dan ayahku. Maaf Ibu, bukan maksudku
membuatmu kelelahan.
Kau hanya tersenyum membelai wajahku dan
mengecup keningku. Kita kembali duduk pada balai bambu memandangi sawah yang
menghampar di depan rumah, kitapun sama-sama menghidangkan secangkir teh. Kau
memberiku teh buatanmu dan aku memberikan secangkir cinta dalam mangkuk yang
kuisi air mataku dan abang.
Aku menggapai tanganmu, dan kutemukan aku
seorang diri mengepalkan tanganku dibawah bantal didalam selimut yang
membungkus tubuhku. Aku memelukmu sangat erat, tak ingin melepaskanmu, meski
kutahu, fotomu telah lama usang karena pelukanku.
***
Kamis, 26 Juni 2014
Maaf, karena Aku Mencintaimu.
Bukan salahmu...
Aku memang seperti ini, dengan apa
adanya diriku.
Bukan salahmu...
Suasananya memang sudah seperti
itu.
Imajiku melambung jauh, menembus ke
setiap masa. Masa yang lalu maupun yang akan datang, semuanya berkelebat dalam
benakku. Bayangmu menari di sana, diantara yang lalu dan yang datang.
Adakah kau akan menyambutku ? atau
kau akan berlalu ?
Ku lihat senyum tipis itu di sana,
menyentakku dan mengingatkanku bahwa kau bukan milikku. Kau pun menari dengan
segala tarian yang tak pernah bisa aku lupakan. Tarian-tarian sakralmu yang
akan terus meliuk-liuk dan menginjak-injak rongga jiwaku.
Adakah kau masih akan bertahan di
situ ? menantikan ku bermain bersamamu, bermain bersama diam mu dan bernyanyi
dengan sunyi mu.
Tiba-tiba kau berteriak !
Suaramu memekik telingaku,
seakan-akan gendang telingaku ingin pecah mengeluarkan darah dan rintihan mu.
Aku sadar, kau tak ada lagi di
sana. Tak ada kau yang setia menemaniku, menungguku untuk bermain dan bernyanyi
bersamamu.
*
Kulepaskan bayanganku dari lukisan
itu, lukisan senja yang kita lukis bersama dikala hujan mematungkan kita di
dermaga tua itu, Dermaga Maccini Baji. Tak akan pernah bisa untuk aku lupa. Ya,
dermaga itu lah yang telah mempertemukan kita. Dermaga tua yang telah melukis
kisah antara kau, aku dan dia yang menjadi milik kita berdua. Maccini Baji yang
dalam bahasa kita “Maccini” berarti melihat atau memperlihatkan dan “Baji” yang
berarti kebaikan. Dan akupun berfikir demikian, dermaga itu telah memperlihatkanku
terhadapmu yang baik untuk selalu aku pandang.
“Oh... berteduh di sini juga kak ?” katamu
waktu itu saat melihat ku bersama dengan Dia yang menjadi milikku.
“Ah, iya... hujan begitu lebat. Kau
datang dengan siapa ?” basa-basi, terpaksa itu kutanyakan untuk menyembunyikan
gugup terhadap bibirku yang kelu. Entah karena cuaca yang dingin atau karena
melihat sosok mu.
“Ya.. bisa kakak lihat sendiri.”
Kau pun menyodorkan tangan dia yang datang bersamamu untuk berkenalan dengan
ku.
Kupandangi sosok yang menjabat
tanganku, tak ku temukan keistimewaan di sana. Ah.. aku heran, apa yang kau
lihat darinya ? aku masih lebih baik darinya !
“Hahahahahahaha.... sudah lah !”
tawaku mengenang pertemuanku lagi dengan mu waktu itu. Kau yang begitu suka
dengan hujan yang selalu tersenyum lebar memandangi langit yang mendung
menumpahkan airnya. Kau yang selalu menyentakku dengan senyum dan keluguan
matamu.
*
Mata yang lugu itu kembali
terlihat, cukup lama aku menunggu. Bibirmu seketika merekah dan membagikan kata
maaf padaku. Ya, meskipun kau tak meminta maaf padaku, aku akan tetap setia tuk
menantimu, menanti tiap senyummu yang selalu membuatku tak jemu memikirkanmu,
menantikan sepasang bola mata bulat yang terus memancarkan keluguan hatimu.
Kau yang telah menebarkan auramu di
hadapanku. Membuatku menghambakan diri pada kesempurnaan paras, sikap dan
segala hal tentangmu. Ya, ini semua bukan salah mu, sehingga kita bergelut
dalam kubangan cinta yang kita buat bersama. Kau yang sudah aku puja sejak
dulu, sejak kau masih belum mengenal siapa aku.
“Tidak apa-apa, aku pun baru
beberapa menit di sini.” Jawabku singkat. Kupandangi wajahmu lebih dalam, kau
tampak lebih manis hari ini. Kau sungguh-sunggu telah dewasa.
“Ow.. maaf, tadi ada keperluan di
rumah. Silahkan lanjutkan diskusinya.” Aku pun tersadar, bukan aku seorang yang
ada di ruangan ini, ada banyak orang di sini. Dan, permintaan maaf tadi bukan
cuma untukku, tapi untuk semua orang yang ada di sini, bukan untukku semata.
Ah.. kasihan sekali aku, anganku terlalu jauh terhadapmu.
Kau sangat manis
hari ini, bagaimana kabarmu ?
Ku beranikan diriku mengirimkan
pesan singkat itu kepadamu. Kau pun tersenyum, lebih manis dari yang ku duga.
Matamu melirikku, menyiratkan bahwa aku ada-ada saja. Aduh.. kau sangat polos !
Kau pun tak membalas pesan ku, senyummu sudah mewakili bahwa kau memang sangat
manis dan yang terpenting, kau baik-baik saja.
*
“Mengapa kau menyukaiku ? padahal
kau tahu bahwa aku telah berdua !” tanyamu saat ku ungkap perasaan ku padamu.
Bukan hanya suka asal kau tahu, tapi hasratku lebih dalam lagi untuk
memilikimu.
“Lantas kenapa kau menyambut rasa
suka ku terhadapmu ?” tanyaku tanpa menjawab. Kau terdiam, entah apa arti dari
diam mu. Apakah kau diam karena merasakan hal yang sama dengan ku, atau kau
diam karena memang tak mau mengutuki kelancanganku padamu.
“Tak perlu jawab apa-apa, nikmati
saja kejujuranku ini !”
Kau tersentak mendengar
kata-kataku. Mungkin kau berfikir bahwa aku sudah gila ! Ya.. aku memang sudah
gila, gila terhadapmu ! kau jauh lebih pendiam hari ini, sesal itu seketika
menyelinap dalam hatiku. Tapi.. ah, sudah lah.. kau memang harus tahu itu
semua.
*
Sejak pertemuan malam itu, dan saat
aku mengantarkan mu pulang. Kita pun mulai akrab, bukan sekedar pesan singkat
yang selalu bertengger pada telepon genggam ku, tapi juga pertemuan-pertemuan
selanjutnya. Hari-hari kita berdua mulai berwarna, dengan dalih diskusi tentang
organisasi kampus, kau dan aku makin bersua dalam rinduku tentangmu.
Puas melihatmu
hari ini :D
Pesan itu pun terkirim, dengan
harapan kau akan berbunga-bungan membacanya. Dasar kau bunga hatiku ! seakan
ada yang menggelitik, aku tak jemu-jemu tuk terus tersenyum menantikan balasan
pesan singkat darimu.
Tapi nihil ! tak ku temukan jawaban
di sana, ada apa gerangan ?
“Halo, lagi ngapain ? entah kenapa
malam ini perasaan ku kurang enak. Sepertinya ada sebuah virus yang menjalar
dalam tubuhku.” Hatiku tersentak, menerima telpon dari mu, kau sakit ?
“Em.. sakit apa Risma ? Maaf kalau
pulangnya kemalaman, jangan-jangan kau masuk angin.” Jawabku dengan perasaan
bersalah.
“Ah, tidak kok ! sepertinya aku
terkena virus yang berasal dari laptop ku tadi.” Kau terdiam sejenak membuatku
tersenyum-senyum sendiri mencerna kata-katamu barusan. Seketika aku teringat
saat aku memperbaiki laptop mu yang tiba-tiba mati karena terkena virus. Tak
ada kata yang mampu keluar. Ah, kau begitu pandai mengambil hatiku.
“Kak Syarif...”
“Iya, kenapa Risma ?” jawabku tak
sabar menunggu kata-katamu selanjutnya. Lama kau terdiam, membuatku mereka-reka
tentang apa yang akan kau ungkapkan padaku. Adakah kau akan menyanjungku lagi ?
“Menurutku semua ini adalah
salah...!! tak sepatutnya kita seperti ini. Aku merasa bersalah dengan Dia.”
Tuturmu tegas !
Aku terpatung, ada banyak alasan
yang kau ucapkan. Tapi, tak ada satupun yang tersangkut di telingaku, yang
terfikirkan di benakku bukanlah semua alasan yang kau uraikan maupun segala
bentuk rasa bersalah dan penyesalanmu. Satu-satunya yang terfikirkan dalam
benakku saat ini adalah bagaimana aku jika kau lebih memilih Dia? Sosokmu yang
sedari tadi menggelitik hatiku berbalik meninggalkan hatiku.
“Aku tak ingin menyakiti hati Dia
!” kata itu terngiang terus dalam benakku, tak kudengar lagi kau berceloteh
diseberang sana, kau turut terpaku dalam sunyi yang ku saji.
“Dia...? Dia siapa yang kau maksud
? Dia yang telah menjadi milikku atau dia yang menjadi milikmu ?”
“Keduanya ! Mereka terlalu baik
untuk di khianati.”
“Mereka tak tahu apa yang terjadi
antara kita berdua, kau tak perlu takut ! biarkan saja ini mengalir apa
adanya.”
Ya, kau tak perlu takut, karena aku
sendiri tak kuasa mengendalikan rasa takutku terhadapmu. Sudah sejak lama aku
menjadi pemujamu dan saat kau mulai untuk aku rengkuh kau ingin lepas dalam
pelukan ku ? Maaf, tak semudah itu kau tuk pergi !
*
Perbincangan malam itu membuatmu
menjauhiku. Kau membuatku nelangsa ! semudah itu kah kau tuk meninggalkan
hatiku yang telah kubagi untuk mu ? Memang benar, mereka terlalu baik untuk
kita khianati. Tapi dia yang ku miliki tak lebih dari kau yang kupuja.
Aku gelisah.. :(
Pesan itu pun ku kirim untuk mu.
Tak ku dapat balasan di sana, tak juga deringan telpon yang selalu mengganti
pesan mu. Apa betul kau ingin meninggalkanku?
resah
jiwaku menepi, mengingat semua yang terlewati
saat
kau masih ada di sisi, mendekapku dalam hangatnya cintamu..
lambat
sang waktu berganti, endapkan laraku di sini..
coba
tuk lupakan bayangan dirimu
yang
selalu saja memaksa tuk merindumu
sekian lama aku
mencoba menepikan diriku di redupnya hatiku
letih menahan,
perih yang kurasakan
walau ku tahu,
ku masih mendambamu...
Hanya itu, lagu dari Band Naff yang terus mengalun menemani
sepiku akan hadirmu. Selalu setia aku dengarkan melalui telepon genggam
milikku. Sekian lama aku mencoba menepikan diriku di redupnya hatiku, ya..
hatiku telah redup sesaat setelah kau menghilang. Letih menahan, perih yang
kurasakan, adakah kau rasa perihku Risma ? Walau ku tahu, ku masih mendambamu..
yah.. aku masih mendambamu. Ya... seperti judul lagu itu “Terendap Laraku”.
*
“Kau tak suka lagi padaku ? aku
memujamu sejak dulu. Saat itu kau belum mengenalku bahkan belum melirikku.
Tolong fikirkan, usah kau hiraukan rasa mereka. Toh, mereka tak tau apa yang
kita rasa.” Ya.. itulah kata-kataku padamu, saat kuberanikan diriku untuk
menelpon mu untuk menanyakan rasamu padaku.
“Aku pun telah membagi hatiku
sesaat setelah pertemuan di dermaga itu. Entah sejak kapan rasa itu ada, namun
baru terasa saat aku melihatmu bersama dia yang memilikimu.” Ucapmu dari balik
telepon.
Aku terdiam sejenak, mereka-reka
perasaan mu padaku, ternyata cintaku tersambut. “Tapi, kenapa kau lebih memilih
dia ? rasaku lebih dalam darinya, lagi pula kau kan merasakan hal yang sama
padaku?” Tanyaku lagi padamu.
“Aku telah belajar tentang apa itu
hati yang terbagi. Aku telah membagi hatiku untukmu sejak dulu, sehingga aku
selalu mencari belahan dari hatiku padamu. Mencintaimu membiarkanku membagi
hatiku untuk aku cari tanpa aku rengkuh. Tapi, aku juga belajar bagaimana
menerima hati. Hati bukan hanya untuk dibagi, tapi juga untuk di terima. Dan
sekarang aku memutuskan untuk menerima.”
*
Aku sudah melakukannya, memberikan
mu sepotong hati yang sudah aku simpan sejak dulu. Entahlah... apakah kau akan
menyimpannya hingga ia membusuk tanpa arti. Atau kau langsung memakannya,
hingga itu dapat meresap ke aliran darahmu hingga ke jantungmu. Semoga dengan
itu, di setiap hembusan nafasmu dan setiap detak jantungmu kau akan terus
mengingat namaku.
Tapi ternyata.... tidak !
Aku sudah melakukannya sejak dulu,
membagi dua hatiku untuk mu dan untuknya yang kumiliki. Meskipun kau tak menyambut,
tapi hatiku masih tetap mengharapkan mu.
Desahanmu dan desahannya sangat
jauh berbeda. Dimana setiap waktu yang kulaui selalu membuatku lebih
memikirkanmu dibandingkan dia. Maaf... maafkan aku jika aku salah !
Ah.. seperti kataku, nikmati
sajalah ! mungkin ini yang terbaik untuk kita. Akupun tak pernah memintamu
untuk membalas sepotong hati pemberianku, melainkan cukup dengan kau melihat
isi bingkisan yang terabaikan dariku. Sepotong hati yang kubagi dua untuk mu
dan untuk dia yang kumiliki.
Mencintaimu adalah pilihan ku dan
dicintai adalah pilihan mu. Mungkin dengan cara seperti itu kau bisa
mengenangku sekaligus menjalani kehidupan mu dengan dia yang memilikimu, yang
telah memberikan sepotong hatinya yang dalam.
Maafkan aku jika kau telah
membuatmu merasa bersalah dengan semua ini. Maafkan aku yang sudah melibatkan
mu dalam kubangan cinta yang sudah lama ada dalam hatiku.
Maafkan aku telah menghadirkan mu
dalam setiap nafas dan ingatan ku, maafkan aku jika aku masih sering
membandingkanmu dengan dia yang menjadi milikku. Toh, dia juga tak tahu apa
yang terjadi antara kita. Biarlah aku mengenang dalam diamku terhadapmu.
Izinkan aku untuk terus memuja dan
mencintaimu dengan sepotong hatiku yang sebentar lagi akan beku seiring
lenyapnya hangat suaramu. Aku akan tetap setia tuk menantimu, menanti tiap
senyummu yang selalu membuatku tak jemu memikirkanmu, menantikan sepasang bola
mata bulat yang terus memancarkan keluguan hatimu.
Maaf jika selama ini kau tersiksa
dengan sepotong hati yang selalu kau cari dan ingin kau rengkuh, sepotong hati
milikku yang ternyata lebih diharapkan oleh dia yang menjadi milikku hingga kau
menjauh.
Maafkan aku, maaf jika cintamu dan
cintaku hanya untuk di rasakan tanpa harus kita miliki, maafkan aku yang begitu
egois tuk tetap mengurungmu dalam imajiku, maafkan aku, karena aku mencintaimu.
Labakkang,
20 Februari 2014
Sabtu, 14 Juni 2014
Hujan, Waktu dan Rindu
Laut berbuih, pecah !
Terhempas keras karang,
Menguap ke langit.
waktu menjanjikanku tentang ungkapan rahasianya.
ketika hujan berinai-rinai menggores jendela
sepatut tetesan kopi dipinggir cangkirku.
waktu menjanjikanku rahasia tentang hujan
mengapa ia berinai meraungkan namamu ?
dan, mengapa kau diam dalam tiap tetes ?
kau berkata,
saat asa itu berbuih,
kau memeluknya di langit
dan menghantarkannya padaku
untuk dinyanyikan sebagai rahasia waktu.
jika itu benar, maka itu bukan rahasia !
tapi, aku lupa asa.
asa apa yang sudah aku larung ke laut hingga berbuih ?
aku juga lupa kepada siapa asa itu ku larung?
kau tersenyum meski diam.
samar-samar ku dengar
"Hujan mengutuki waktu yang membawa Rahasiamu tentang Rindu yang kau larung"
Terhempas keras karang,
Menguap ke langit.
waktu menjanjikanku tentang ungkapan rahasianya.
ketika hujan berinai-rinai menggores jendela
sepatut tetesan kopi dipinggir cangkirku.
waktu menjanjikanku rahasia tentang hujan
mengapa ia berinai meraungkan namamu ?
dan, mengapa kau diam dalam tiap tetes ?
kau berkata,
saat asa itu berbuih,
kau memeluknya di langit
dan menghantarkannya padaku
untuk dinyanyikan sebagai rahasia waktu.
jika itu benar, maka itu bukan rahasia !
tapi, aku lupa asa.
asa apa yang sudah aku larung ke laut hingga berbuih ?
aku juga lupa kepada siapa asa itu ku larung?
kau tersenyum meski diam.
samar-samar ku dengar
"Hujan mengutuki waktu yang membawa Rahasiamu tentang Rindu yang kau larung"
Minggu, 25 Mei 2014
Kopi Pahit
dan aku tak bisa menemukan mu dalam rinai hujan...
kopimu telah habis di seruput,
bahkan telah kering hingga lengket !
kau masih saja diam,
mencoba menarik diri dalam tiap goresan hujan.
maaf,
kopi buatanku terlau pahit !
hingga kau menyeruputnya dengan terpaksa.
maaf,
aku memaksamu hadir dalam hujan ini.
meski itu sangat pahit !
kopimu telah habis di seruput,
bahkan telah kering hingga lengket !
kau masih saja diam,
mencoba menarik diri dalam tiap goresan hujan.
maaf,
kopi buatanku terlau pahit !
hingga kau menyeruputnya dengan terpaksa.
maaf,
aku memaksamu hadir dalam hujan ini.
meski itu sangat pahit !
Rasa Kopi
sudah lama tak menyeruputmu,
mengagumi aromamu,
menggilai dan mengecap rasamu,
sedikit manis dengan pahit yang pas..!
pas dengan yang baru saja berlalu,
sangat kental, hingga sulit terlupa.
secangkir kopi susu yang kau seruput.
sambil menikmati raungan hujan
membacaku yang tak pernah ada
dan terus berujar, "ku tahu kau rindu.."
mengagumi aromamu,
menggilai dan mengecap rasamu,
sedikit manis dengan pahit yang pas..!
pas dengan yang baru saja berlalu,
sangat kental, hingga sulit terlupa.
secangkir kopi susu yang kau seruput.
sambil menikmati raungan hujan
membacaku yang tak pernah ada
dan terus berujar, "ku tahu kau rindu.."
Langganan:
Komentar (Atom)