Senin, 08 Desember 2014

Aku Kehilangan Kata

tak tahu harus menulis apa...
kau menyimpannya semua dalam hatimu dan aku tak kuasa mengungkap, 
kita sama-sama tahu meski bungkam !!

ambillah seluruh kata yang kau tahu, 
karena aku telah kehilangan kataku.

satu, dua, tiga !!
aku tidak sedang menghitung waktu, 

tapi justru menghitung satu persatu kataku yang lenyap..

ambillah seluruh kata yang kau tahu,

karena aku telah kehilangan kataku.

a, i, e, o, u
aku tidak sedang mengeja,
tapi aku sedang berusaha merangkai kataku yang berserakan..

tik..tok..tik..tok..!!!
ya, aku sedang menghitung waktu !!

menunggu masa membisukan kata..

.....
waktu ku telah bisu

aku kehilangan kata.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Daun Rindu

dan aku termangu di sini.
setengah menganga menyedot angan yang tersisa
kau menari tepat di atasku,
saling menggesek memori.

dan aku termangu di sini.
setengah menganga menyerap rindu yang menggenang
kau berayun tepat di atasku,
seret angin sembunyi ingin.

kau masih menari dalam ayunan angin
meski ku ingin, memoriku hanya mampu merindu.

ada kau di sini, tepat di sebelahku
diam, tapi paham makna sendiri !

kutitip satu kata rindu di pucukmu,
dan kau kembali menari dalam ayunan angin
berhenti tepat dalam pusara.
menyusup, menyimpan rinduku, 
kering bersama tanah yang pucat !

Pucuk Kemarau

dari pucuk-pucuk kemarau
ada setetes asa di sana
menggambarkan siluetmu di balik jendela

dari pucuk-pucuk kemarau
merekah bunga kerinduan pada hembusan nafasmu

dari pucuk-pucuk kemarau
masa hanya tinggal asa
mengeringkanmu dalam dekap kelopak rindu

membungkus masa pada tiap embun
sekedar meratapi kemarau yang kian ke pucuk
tenang, dalam rapalan do'a

jika aku harus merapal
kurapalkan kau jadi gerimis malam ini
menjadikan pucuk-pucuk tak lagi bertahan di kemarau
tapi merekah di ujung hujan

Minggu, 07 September 2014

Secangkir Cinta dalam Semangkuk Mie


Aku RINDU
Kau seduh aku dalam gelas
Di aduk pelan
Lalu kau beri sedikit gula.
Saat itu, kau tersenyum padaku. Menanyakan apakah teh buatanmu sudah manis atau belum ? dan seperti biasa, anggukanku akan membuatmu puas dan merasa bangga telah melayaniku.
*
Pagi ini kau membangunkanku dengan aroma teh mu yang khas. Kau pun tersenyum dan memaksaku segera menanggalkan mimpi-mimpiku, meski kau tahu pasti mimpiku tak lain hanyalah tentangmu. Tentangmu wanitaku yang tak pernah hilang dari pelupukku. Kuteguk teh buatanmu. Tak peduli pekat, hanya manis yang meresap karena kau menemaniku menyeruputnya.
Pagi ini kau tampak lain dari biasanya, kau terlihat begitu manis dan menawan. Entah kenapa, mungkin kau ingin menarikku lebih dalam terhadapmu. Tenanglah wanitaku, kau akan terus menjadi wanitaku yang terindah. Kau mengusap keningku dan mengecupnya sehingga membuat lelaki di sebelahku mencibir cemburu. Ah, biar saja ! kau tahu itu abangku, biar saja dia cemburu. Toh akulah yang justru berhasil menarikmu kepelukanku, begitupun sebaliknya.
*
Kali ini kau nampak lelah, ingin ku genggam tanganmu, lalu kuusap keningmu dan mengecupnya. Tapi itu ku tahan, bukan karena terlalu tega, tapi karena aku tak tahu bagaimana caranya. Biarlah aku menanggung lelahmu dengan caraku. Dengan perasaan tidak enakku dan segenap cinta –kasih yang kucipta khusus untukmu.
“Ini sebotol teh untuk kau bawa. Jangan lupa di minum dan cepat pulang!” kau menyodorkanku sebotol teh buatanmu.
Ah, pagi ini aku sudah menyeruput habis secangkir tehmu dan sekarang kau menodongku dengan botolanmu. Tapi tak apa, karena dengan secangkir itu aku menyimpan tetes demi tetes cintaku.
*
“Makanlah !” Ucapmu getir saat menyajikan makan siang untukku.
Semangkuk mie kuah yang dibagi dua dengan abangku. Membuat sepasang mata kembali menguliti wajahku dengan geram. Marah saja, kalau kau tak mau maka semuanya akan menjadi milikku.
Kau sangat tahu aku, kau tahu aku sangat suka mengasup mie kuah buatanmu. Meski dengan begitu aku harus bertengkar dengan abangku yang juga menginginkan perhatian yang sama darimu. Aku egois sebagai seorang adik, tapi tak akan ku serahkan kau begitu saja dalam pelukannya.
Dan saat pertengkaran itu berlangsung, kau akan memandangku lekat, seolah berbicara dengan mataku bahwa apapun yang terjadi kau selalu milikku. Itu membuatku tenang. Terima kasih wanitaku, kau pandai membacai air wajahku dan aku tak perlu berlama-lama dengan amarahku.
*
Hujan masih saja berinai, akupun ada disana. Diantara hujan menarikan tarian cintaku padamu. Kau tersenyum geli, menertawakan kekanakanku. Aku memang masih kanak-kanak, terlebih bila berhadapan denganmu. Aku masih saja menari dan kau tahu ? abangku ikut pula menari bersamaku, betul-betul keras kepala. Dia itu sudah tahu kalau kau milikku, tapi dia masih saja mencoba menarikmu dariku. Dan kali ini aku harus mengalah. Kuserahkan hujan untuk abangku agar aku bisa menikmati dekapan hangatmu malam ini.
“Kau tahu hujan ?” tanyamu padaku.
“Maksudnya ?” aku memang tak mengerti maksudmu, aku justru hanya ingin menertawai pertanyaan polosmu.
“Dalam hujan kau belajar rasa sayang, dalam hujan kau menemukan rasa sayang dan dalam hujan kau menciptakan rasa sayang itu.” Aku diam, selain karena tidak mengerti, tapi juga kantuk telah menggerogoti mataku. Aku hanya memelukmu erat, sangat erat dari biasanya, dekapanmu begitu hangat hingga sulit aku tepis. Biarkan aku untuk terus memelukmu wanitaku.
*
Bulan ini adalah penghujung tahun, dimana hujan sedang semangat-semangatnya bersenandung bersama petir, dan angin yang kencang. Dan aku masih disini, dalam dekapan hangatmu. Kau membelai rambut ku, membangunkanku untuk segera memulai aktifitasku. Andai aku bisa memilih, izinkan aku untuk tetap disini, didalam selimut yang membungkus kita berdua.
Tapi, untuk menyenangkan hatimu kulangkahkan kakiku ke kamar mandi mengutuki cuaca yang dingin sambil terus membayangkan kehangatan pelukmu.
Seperti setiap pagi yang lain, kau ada disana. Di sudut meja makan, menungguku bersama abangku yang sentimental dengan secangkir teh buatanmu. Secangkir teh yang kusisihkan satu tetes untuk secangkir cintaku.
Tak ada percakapan pagi ini, bukan hanya hawa di luar sana yang menjadi dingin, tapi di dalam pun demikian, semua beku, serasa secangkir cintaku tengah aku masukkan dalam kulkas.
Kau aneh ! kau beku ! kau diam ! kau biarkan aku merinaikan air mataku. Kau paksa aku melihatmu mengecup abangku. Aku tak mau ! kau hanya milikku. Aku menangis sejadi-jadinya. Ku pecah beku ini bersama secangkir cintaku yang seketika beku. Semuanya pecah, seolah beling yang mengiris dadaku. Ada sesak yang tak kutahu di mana. Dan aku memilih pergi !
*
Entah kenapa hari ini hujan tak henti-hentinya mengangguku. Serta obrolan kita tentang hujan malam itu terus saja memekakkan telingaku. Ku coba menepisnya dengan mendengarkan lagu sekencang-kencangnya. Tapi, hujan masih lebih heboh di luar sana. Aku mengalah, aku harus pulang meski ada sesak yang tak ku tahu dimana.
Ku temui abangku tengah duduk memeluk lututnya seperti mengutuki hujan. Ada banyak orang dalam rinai ini. Ah, bukan ! ini bukan rinai yang biasa. Ku lihat mata sembab abangku menyatu dengan kubangan air yang ada dihadapannya seraya bercermin meratapi penyesalannya telah membuatku marah pagi ini.
Ini sudah sore, bahkan telah menjelang magrib dan aku tak menemukanmu. Seharusnya aku yang marah hingga aku harus meninggalkanmu dulu untuk menghilangkan sesak itu. Tapi, kenapa justru kau yang pergi. Sesak ini makin menjadi, ada linang yang terus membasahi sudut mataku hingga berinai dengan hujan.
Ah, rupanya abangku tidak menyesal karena membuatku marah justru ia merindukan wanitaku yang pergi. Kau beruntung abang, sempat mengecap hangatnya kecupan dari sepotong bibir wanitaku. Itu jatahku yang kau rebut tepat dihadapanku, dan karena tak enak padaku, maka ia memilih pergi. Wanitaku pergi !
*
Anak-anak bermain hujan, mereka lupa akan kehilangan
Saat masih kecil, aku dan abangku senang mengasup mie kuah
Kadang semangkuk untuk mie dibagi dua
Aku tahu dan abangku juga
Kalau ibu kadang curang membagi.
Aku kadang mendapat lebih banyak kuah dari abangku
Dan karena itu, kami kadang bertengkar.
Aku menangis, karena kalah atau kena pukul

Kali ini, Bu, aku menangis
Karena kehilanganmu, dan hati yang masih terpukul
Aku ingin menjadi semangkuk mie itu
Lalu kubagi dua
Satu untuk ibu, satu untuk Tuhan
Walau sebenarnya Tuhan juga tahu aku curang
Karena memberimu lebih banyak kuah dari mataku.
Ini sudah tahun ke sepuluh, dimana aku merindukan secangkir teh dan semangkuk mie buatanmu. Adapula botol air minumku yang telah kering dan usang dimakan usia, sudah lama kau meninggalkanku wanitaku, wanitaku yang tak pernah sedetikpun lepas dari pelupukku.
Aku ingat saat kau mendekapku dalam selimut yang membungkus kita berdua sambil terus bercerita tentang makna hujan yang kubawa hingga terlelap. Saat itu aku masih belum mengerti, dan sekarang aku tahu kau ada dalam rinai karena aku menemukan rasa di sana. Kau menyimpan rasa dalam hujan dan aku menciptakan rasa itu untukku.
Saat itu aku memecahkan secangkir teh ku, dan selayaknya beling itu telah mengirisku. Aku luka saat itu dan telah kubeli cangkir baru untuk menyimpan tetesan tehmu yang kucampur hujan untuk aku persembahkan padamu di penghujung hujan. Ada secangkir teh dalam mangkuk mie-mu, mangkuk mie yang kuisi kuah air mataku dan abang.
*
Saat itu, kau tersenyum padaku. Menanyakan apakah teh buatanmu sudah manis atau belum ? dan seperti biasa, anggukanku akan membuatmu puas dan merasa bangga telah melayaniku.
Kutepis bayang itu, dingin merasuk hingga rusuk. Aku menggapai tanganmu dan kaupun mengenggamnya dengan erat. Kau menarik tanganku pelan mengajakku berjalan menikmati embun pagi ini.
Kupandang lekat-lekat wajahmu, ku baca setiap linang di sudut matamu. Sepertinya kau kelelahan, tak kuasa aku memandang. Kau masih saja tersenyum. Maaf aku membuatmu kelelahan, aku terlalu rewel pagi ini. Itu karena aku cemburu pada kedua lelaki yang sedari tadi memaksamu memperhatikannya. Tak lain ia abangku dan ayahku. Maaf Ibu, bukan maksudku membuatmu kelelahan.
Kau hanya tersenyum membelai wajahku dan mengecup keningku. Kita kembali duduk pada balai bambu memandangi sawah yang menghampar di depan rumah, kitapun sama-sama menghidangkan secangkir teh. Kau memberiku teh buatanmu dan aku memberikan secangkir cinta dalam mangkuk yang kuisi air mataku dan abang.
Aku menggapai tanganmu, dan kutemukan aku seorang diri mengepalkan tanganku dibawah bantal didalam selimut yang membungkus tubuhku. Aku memelukmu sangat erat, tak ingin melepaskanmu, meski kutahu, fotomu telah lama usang karena pelukanku.

***

Kamis, 26 Juni 2014

Maaf, karena Aku Mencintaimu.


Bukan salahmu...
Aku memang seperti ini, dengan apa adanya diriku.
Bukan salahmu...
Suasananya memang sudah seperti itu.
Imajiku melambung jauh, menembus ke setiap masa. Masa yang lalu maupun yang akan datang, semuanya berkelebat dalam benakku. Bayangmu menari di sana, diantara yang lalu dan yang datang.
Adakah kau akan menyambutku ? atau kau akan berlalu ?
Ku lihat senyum tipis itu di sana, menyentakku dan mengingatkanku bahwa kau bukan milikku. Kau pun menari dengan segala tarian yang tak pernah bisa aku lupakan. Tarian-tarian sakralmu yang akan terus meliuk-liuk dan menginjak-injak rongga jiwaku.
Adakah kau masih akan bertahan di situ ? menantikan ku bermain bersamamu, bermain bersama diam mu dan bernyanyi dengan sunyi mu.
Tiba-tiba kau berteriak !
Suaramu memekik telingaku, seakan-akan gendang telingaku ingin pecah mengeluarkan darah dan rintihan mu.
Aku sadar, kau tak ada lagi di sana. Tak ada kau yang setia menemaniku, menungguku untuk bermain dan bernyanyi bersamamu.
*
Kulepaskan bayanganku dari lukisan itu, lukisan senja yang kita lukis bersama dikala hujan mematungkan kita di dermaga tua itu, Dermaga Maccini Baji. Tak akan pernah bisa untuk aku lupa. Ya, dermaga itu lah yang telah mempertemukan kita. Dermaga tua yang telah melukis kisah antara kau, aku dan dia yang menjadi milik kita berdua. Maccini Baji yang dalam bahasa kita “Maccini” berarti melihat atau memperlihatkan dan “Baji” yang berarti kebaikan. Dan akupun berfikir demikian, dermaga itu telah memperlihatkanku terhadapmu yang baik untuk selalu aku pandang.
 “Oh... berteduh di sini juga kak ?” katamu waktu itu saat melihat ku bersama dengan Dia yang menjadi milikku.
“Ah, iya... hujan begitu lebat. Kau datang dengan siapa ?” basa-basi, terpaksa itu kutanyakan untuk menyembunyikan gugup terhadap bibirku yang kelu. Entah karena cuaca yang dingin atau karena melihat sosok mu.
“Ya.. bisa kakak lihat sendiri.” Kau pun menyodorkan tangan dia yang datang bersamamu untuk berkenalan dengan ku.
Kupandangi sosok yang menjabat tanganku, tak ku temukan keistimewaan di sana. Ah.. aku heran, apa yang kau lihat darinya ? aku masih lebih baik darinya !
“Hahahahahahaha.... sudah lah !” tawaku mengenang pertemuanku lagi dengan mu waktu itu. Kau yang begitu suka dengan hujan yang selalu tersenyum lebar memandangi langit yang mendung menumpahkan airnya. Kau yang selalu menyentakku dengan senyum dan keluguan matamu.
*
Mata yang lugu itu kembali terlihat, cukup lama aku menunggu. Bibirmu seketika merekah dan membagikan kata maaf padaku. Ya, meskipun kau tak meminta maaf padaku, aku akan tetap setia tuk menantimu, menanti tiap senyummu yang selalu membuatku tak jemu memikirkanmu, menantikan sepasang bola mata bulat yang terus memancarkan keluguan hatimu.
Kau yang telah menebarkan auramu di hadapanku. Membuatku menghambakan diri pada kesempurnaan paras, sikap dan segala hal tentangmu. Ya, ini semua bukan salah mu, sehingga kita bergelut dalam kubangan cinta yang kita buat bersama. Kau yang sudah aku puja sejak dulu, sejak kau masih belum mengenal siapa aku.
“Tidak apa-apa, aku pun baru beberapa menit di sini.” Jawabku singkat. Kupandangi wajahmu lebih dalam, kau tampak lebih manis hari ini. Kau sungguh-sunggu telah dewasa.
“Ow.. maaf, tadi ada keperluan di rumah. Silahkan lanjutkan diskusinya.” Aku pun tersadar, bukan aku seorang yang ada di ruangan ini, ada banyak orang di sini. Dan, permintaan maaf tadi bukan cuma untukku, tapi untuk semua orang yang ada di sini, bukan untukku semata. Ah.. kasihan sekali aku, anganku terlalu jauh terhadapmu.
Kau sangat manis hari ini, bagaimana kabarmu ?
Ku beranikan diriku mengirimkan pesan singkat itu kepadamu. Kau pun tersenyum, lebih manis dari yang ku duga. Matamu melirikku, menyiratkan bahwa aku ada-ada saja. Aduh.. kau sangat polos ! Kau pun tak membalas pesan ku, senyummu sudah mewakili bahwa kau memang sangat manis dan yang terpenting, kau baik-baik saja.
*
“Mengapa kau menyukaiku ? padahal kau tahu bahwa aku telah berdua !” tanyamu saat ku ungkap perasaan ku padamu. Bukan hanya suka asal kau tahu, tapi hasratku lebih dalam lagi untuk memilikimu.
“Lantas kenapa kau menyambut rasa suka ku terhadapmu ?” tanyaku tanpa menjawab. Kau terdiam, entah apa arti dari diam mu. Apakah kau diam karena merasakan hal yang sama dengan ku, atau kau diam karena memang tak mau mengutuki kelancanganku padamu.
“Tak perlu jawab apa-apa, nikmati saja kejujuranku ini !”
Kau tersentak mendengar kata-kataku. Mungkin kau berfikir bahwa aku sudah gila ! Ya.. aku memang sudah gila, gila terhadapmu ! kau jauh lebih pendiam hari ini, sesal itu seketika menyelinap dalam hatiku. Tapi.. ah, sudah lah.. kau memang harus tahu itu semua.
*
Sejak pertemuan malam itu, dan saat aku mengantarkan mu pulang. Kita pun mulai akrab, bukan sekedar pesan singkat yang selalu bertengger pada telepon genggam ku, tapi juga pertemuan-pertemuan selanjutnya. Hari-hari kita berdua mulai berwarna, dengan dalih diskusi tentang organisasi kampus, kau dan aku makin bersua dalam rinduku tentangmu.
Puas melihatmu hari ini :D
Pesan itu pun terkirim, dengan harapan kau akan berbunga-bungan membacanya. Dasar kau bunga hatiku ! seakan ada yang menggelitik, aku tak jemu-jemu tuk terus tersenyum menantikan balasan pesan singkat darimu.
Tapi nihil ! tak ku temukan jawaban di sana, ada apa gerangan ?
“Halo, lagi ngapain ? entah kenapa malam ini perasaan ku kurang enak. Sepertinya ada sebuah virus yang menjalar dalam tubuhku.” Hatiku tersentak, menerima telpon dari mu, kau sakit ?
“Em.. sakit apa Risma ? Maaf kalau pulangnya kemalaman, jangan-jangan kau masuk angin.” Jawabku dengan perasaan bersalah.
“Ah, tidak kok ! sepertinya aku terkena virus yang berasal dari laptop ku tadi.” Kau terdiam sejenak membuatku tersenyum-senyum sendiri mencerna kata-katamu barusan. Seketika aku teringat saat aku memperbaiki laptop mu yang tiba-tiba mati karena terkena virus. Tak ada kata yang mampu keluar. Ah, kau begitu pandai mengambil hatiku.
“Kak Syarif...”
“Iya, kenapa Risma ?” jawabku tak sabar menunggu kata-katamu selanjutnya. Lama kau terdiam, membuatku mereka-reka tentang apa yang akan kau ungkapkan padaku. Adakah kau akan menyanjungku lagi ?
“Menurutku semua ini adalah salah...!! tak sepatutnya kita seperti ini. Aku merasa bersalah dengan Dia.” Tuturmu tegas !
Aku terpatung, ada banyak alasan yang kau ucapkan. Tapi, tak ada satupun yang tersangkut di telingaku, yang terfikirkan di benakku bukanlah semua alasan yang kau uraikan maupun segala bentuk rasa bersalah dan penyesalanmu. Satu-satunya yang terfikirkan dalam benakku saat ini adalah bagaimana aku jika kau lebih memilih Dia? Sosokmu yang sedari tadi menggelitik hatiku berbalik meninggalkan hatiku.
“Aku tak ingin menyakiti hati Dia !” kata itu terngiang terus dalam benakku, tak kudengar lagi kau berceloteh diseberang sana, kau turut terpaku dalam sunyi yang ku saji.
“Dia...? Dia siapa yang kau maksud ? Dia yang telah menjadi milikku atau dia yang menjadi milikmu ?”
“Keduanya ! Mereka terlalu baik untuk di khianati.”
“Mereka tak tahu apa yang terjadi antara kita berdua, kau tak perlu takut ! biarkan saja ini mengalir apa adanya.”
Ya, kau tak perlu takut, karena aku sendiri tak kuasa mengendalikan rasa takutku terhadapmu. Sudah sejak lama aku menjadi pemujamu dan saat kau mulai untuk aku rengkuh kau ingin lepas dalam pelukan ku ? Maaf, tak semudah itu kau tuk pergi !
*
Perbincangan malam itu membuatmu menjauhiku. Kau membuatku nelangsa ! semudah itu kah kau tuk meninggalkan hatiku yang telah kubagi untuk mu ? Memang benar, mereka terlalu baik untuk kita khianati. Tapi dia yang ku miliki tak lebih dari kau yang kupuja.
Aku gelisah.. :(
Pesan itu pun ku kirim untuk mu. Tak ku dapat balasan di sana, tak juga deringan telpon yang selalu mengganti pesan mu. Apa betul kau ingin meninggalkanku?
resah jiwaku menepi, mengingat semua yang terlewati
saat kau masih ada di sisi, mendekapku dalam hangatnya cintamu..
lambat sang waktu berganti, endapkan laraku di sini..
coba tuk lupakan bayangan dirimu
yang selalu saja memaksa tuk merindumu
sekian lama aku mencoba menepikan diriku di redupnya hatiku
letih menahan, perih yang kurasakan
walau ku tahu, ku masih mendambamu...
Hanya itu, lagu dari Band Naff yang terus mengalun menemani sepiku akan hadirmu. Selalu setia aku dengarkan melalui telepon genggam milikku. Sekian lama aku mencoba menepikan diriku di redupnya hatiku, ya.. hatiku telah redup sesaat setelah kau menghilang. Letih menahan, perih yang kurasakan, adakah kau rasa perihku Risma ? Walau ku tahu, ku masih mendambamu.. yah.. aku masih mendambamu. Ya... seperti judul lagu itu “Terendap Laraku”.
*
“Kau tak suka lagi padaku ? aku memujamu sejak dulu. Saat itu kau belum mengenalku bahkan belum melirikku. Tolong fikirkan, usah kau hiraukan rasa mereka. Toh, mereka tak tau apa yang kita rasa.” Ya.. itulah kata-kataku padamu, saat kuberanikan diriku untuk menelpon mu untuk menanyakan rasamu padaku.
“Aku pun telah membagi hatiku sesaat setelah pertemuan di dermaga itu. Entah sejak kapan rasa itu ada, namun baru terasa saat aku melihatmu bersama dia yang memilikimu.” Ucapmu dari balik telepon.
Aku terdiam sejenak, mereka-reka perasaan mu padaku, ternyata cintaku tersambut. “Tapi, kenapa kau lebih memilih dia ? rasaku lebih dalam darinya, lagi pula kau kan merasakan hal yang sama padaku?” Tanyaku lagi padamu.
“Aku telah belajar tentang apa itu hati yang terbagi. Aku telah membagi hatiku untukmu sejak dulu, sehingga aku selalu mencari belahan dari hatiku padamu. Mencintaimu membiarkanku membagi hatiku untuk aku cari tanpa aku rengkuh. Tapi, aku juga belajar bagaimana menerima hati. Hati bukan hanya untuk dibagi, tapi juga untuk di terima. Dan sekarang aku memutuskan untuk menerima.”
*
Aku sudah melakukannya, memberikan mu sepotong hati yang sudah aku simpan sejak dulu. Entahlah... apakah kau akan menyimpannya hingga ia membusuk tanpa arti. Atau kau langsung memakannya, hingga itu dapat meresap ke aliran darahmu hingga ke jantungmu. Semoga dengan itu, di setiap hembusan nafasmu dan setiap detak jantungmu kau akan terus mengingat namaku.
Tapi ternyata.... tidak !
Aku sudah melakukannya sejak dulu, membagi dua hatiku untuk mu dan untuknya yang kumiliki. Meskipun kau tak menyambut, tapi hatiku masih tetap mengharapkan mu.
Desahanmu dan desahannya sangat jauh berbeda. Dimana setiap waktu yang kulaui selalu membuatku lebih memikirkanmu dibandingkan dia. Maaf... maafkan aku jika aku salah !
Ah.. seperti kataku, nikmati sajalah ! mungkin ini yang terbaik untuk kita. Akupun tak pernah memintamu untuk membalas sepotong hati pemberianku, melainkan cukup dengan kau melihat isi bingkisan yang terabaikan dariku. Sepotong hati yang kubagi dua untuk mu dan untuk dia yang kumiliki.
Mencintaimu adalah pilihan ku dan dicintai adalah pilihan mu. Mungkin dengan cara seperti itu kau bisa mengenangku sekaligus menjalani kehidupan mu dengan dia yang memilikimu, yang telah memberikan sepotong hatinya yang dalam.
Maafkan aku jika kau telah membuatmu merasa bersalah dengan semua ini. Maafkan aku yang sudah melibatkan mu dalam kubangan cinta yang sudah lama ada dalam hatiku.
Maafkan aku telah menghadirkan mu dalam setiap nafas dan ingatan ku, maafkan aku jika aku masih sering membandingkanmu dengan dia yang menjadi milikku. Toh, dia juga tak tahu apa yang terjadi antara kita. Biarlah aku mengenang dalam diamku terhadapmu.
Izinkan aku untuk terus memuja dan mencintaimu dengan sepotong hatiku yang sebentar lagi akan beku seiring lenyapnya hangat suaramu. Aku akan tetap setia tuk menantimu, menanti tiap senyummu yang selalu membuatku tak jemu memikirkanmu, menantikan sepasang bola mata bulat yang terus memancarkan keluguan hatimu.
Maaf jika selama ini kau tersiksa dengan sepotong hati yang selalu kau cari dan ingin kau rengkuh, sepotong hati milikku yang ternyata lebih diharapkan oleh dia yang menjadi milikku hingga kau menjauh.
Maafkan aku, maaf jika cintamu dan cintaku hanya untuk di rasakan tanpa harus kita miliki, maafkan aku yang begitu egois tuk tetap mengurungmu dalam imajiku, maafkan aku, karena aku mencintaimu.

Labakkang, 20 Februari 2014

Sabtu, 14 Juni 2014

Hujan, Waktu dan Rindu

Laut berbuih, pecah !
Terhempas keras karang,
Menguap ke langit.

waktu menjanjikanku tentang ungkapan rahasianya.
ketika hujan berinai-rinai menggores jendela
sepatut tetesan kopi dipinggir cangkirku.

waktu menjanjikanku rahasia tentang hujan
mengapa ia berinai meraungkan namamu ?
dan, mengapa kau diam dalam tiap tetes ?

kau berkata,
saat asa itu berbuih,
kau memeluknya di langit
dan menghantarkannya padaku
untuk dinyanyikan sebagai rahasia waktu.

jika itu benar, maka itu bukan rahasia !
tapi, aku lupa asa.

asa apa yang sudah aku larung ke laut hingga berbuih ?
aku juga lupa kepada siapa asa itu ku larung?

kau tersenyum meski diam.
samar-samar ku dengar
"Hujan mengutuki waktu yang membawa Rahasiamu tentang Rindu yang kau larung"

Minggu, 25 Mei 2014

Kopi Pahit

dan aku tak bisa menemukan mu dalam rinai hujan...
kopimu telah habis di seruput,
bahkan telah kering hingga lengket !

kau masih saja diam,
mencoba menarik diri dalam tiap goresan hujan.

maaf,
kopi buatanku terlau pahit !
hingga kau menyeruputnya dengan terpaksa.

maaf,
aku memaksamu hadir dalam hujan ini.
meski itu sangat pahit !

Rasa Kopi

sudah lama tak menyeruputmu,
mengagumi aromamu,
menggilai dan mengecap rasamu,

sedikit manis dengan pahit yang pas..!
pas dengan yang baru saja berlalu,
sangat kental, hingga sulit terlupa.

secangkir kopi susu yang kau seruput.
sambil menikmati raungan hujan
membacaku yang tak pernah ada

dan terus berujar, "ku tahu kau rindu.."