Minggu, 07 September 2014

Secangkir Cinta dalam Semangkuk Mie


Aku RINDU
Kau seduh aku dalam gelas
Di aduk pelan
Lalu kau beri sedikit gula.
Saat itu, kau tersenyum padaku. Menanyakan apakah teh buatanmu sudah manis atau belum ? dan seperti biasa, anggukanku akan membuatmu puas dan merasa bangga telah melayaniku.
*
Pagi ini kau membangunkanku dengan aroma teh mu yang khas. Kau pun tersenyum dan memaksaku segera menanggalkan mimpi-mimpiku, meski kau tahu pasti mimpiku tak lain hanyalah tentangmu. Tentangmu wanitaku yang tak pernah hilang dari pelupukku. Kuteguk teh buatanmu. Tak peduli pekat, hanya manis yang meresap karena kau menemaniku menyeruputnya.
Pagi ini kau tampak lain dari biasanya, kau terlihat begitu manis dan menawan. Entah kenapa, mungkin kau ingin menarikku lebih dalam terhadapmu. Tenanglah wanitaku, kau akan terus menjadi wanitaku yang terindah. Kau mengusap keningku dan mengecupnya sehingga membuat lelaki di sebelahku mencibir cemburu. Ah, biar saja ! kau tahu itu abangku, biar saja dia cemburu. Toh akulah yang justru berhasil menarikmu kepelukanku, begitupun sebaliknya.
*
Kali ini kau nampak lelah, ingin ku genggam tanganmu, lalu kuusap keningmu dan mengecupnya. Tapi itu ku tahan, bukan karena terlalu tega, tapi karena aku tak tahu bagaimana caranya. Biarlah aku menanggung lelahmu dengan caraku. Dengan perasaan tidak enakku dan segenap cinta –kasih yang kucipta khusus untukmu.
“Ini sebotol teh untuk kau bawa. Jangan lupa di minum dan cepat pulang!” kau menyodorkanku sebotol teh buatanmu.
Ah, pagi ini aku sudah menyeruput habis secangkir tehmu dan sekarang kau menodongku dengan botolanmu. Tapi tak apa, karena dengan secangkir itu aku menyimpan tetes demi tetes cintaku.
*
“Makanlah !” Ucapmu getir saat menyajikan makan siang untukku.
Semangkuk mie kuah yang dibagi dua dengan abangku. Membuat sepasang mata kembali menguliti wajahku dengan geram. Marah saja, kalau kau tak mau maka semuanya akan menjadi milikku.
Kau sangat tahu aku, kau tahu aku sangat suka mengasup mie kuah buatanmu. Meski dengan begitu aku harus bertengkar dengan abangku yang juga menginginkan perhatian yang sama darimu. Aku egois sebagai seorang adik, tapi tak akan ku serahkan kau begitu saja dalam pelukannya.
Dan saat pertengkaran itu berlangsung, kau akan memandangku lekat, seolah berbicara dengan mataku bahwa apapun yang terjadi kau selalu milikku. Itu membuatku tenang. Terima kasih wanitaku, kau pandai membacai air wajahku dan aku tak perlu berlama-lama dengan amarahku.
*
Hujan masih saja berinai, akupun ada disana. Diantara hujan menarikan tarian cintaku padamu. Kau tersenyum geli, menertawakan kekanakanku. Aku memang masih kanak-kanak, terlebih bila berhadapan denganmu. Aku masih saja menari dan kau tahu ? abangku ikut pula menari bersamaku, betul-betul keras kepala. Dia itu sudah tahu kalau kau milikku, tapi dia masih saja mencoba menarikmu dariku. Dan kali ini aku harus mengalah. Kuserahkan hujan untuk abangku agar aku bisa menikmati dekapan hangatmu malam ini.
“Kau tahu hujan ?” tanyamu padaku.
“Maksudnya ?” aku memang tak mengerti maksudmu, aku justru hanya ingin menertawai pertanyaan polosmu.
“Dalam hujan kau belajar rasa sayang, dalam hujan kau menemukan rasa sayang dan dalam hujan kau menciptakan rasa sayang itu.” Aku diam, selain karena tidak mengerti, tapi juga kantuk telah menggerogoti mataku. Aku hanya memelukmu erat, sangat erat dari biasanya, dekapanmu begitu hangat hingga sulit aku tepis. Biarkan aku untuk terus memelukmu wanitaku.
*
Bulan ini adalah penghujung tahun, dimana hujan sedang semangat-semangatnya bersenandung bersama petir, dan angin yang kencang. Dan aku masih disini, dalam dekapan hangatmu. Kau membelai rambut ku, membangunkanku untuk segera memulai aktifitasku. Andai aku bisa memilih, izinkan aku untuk tetap disini, didalam selimut yang membungkus kita berdua.
Tapi, untuk menyenangkan hatimu kulangkahkan kakiku ke kamar mandi mengutuki cuaca yang dingin sambil terus membayangkan kehangatan pelukmu.
Seperti setiap pagi yang lain, kau ada disana. Di sudut meja makan, menungguku bersama abangku yang sentimental dengan secangkir teh buatanmu. Secangkir teh yang kusisihkan satu tetes untuk secangkir cintaku.
Tak ada percakapan pagi ini, bukan hanya hawa di luar sana yang menjadi dingin, tapi di dalam pun demikian, semua beku, serasa secangkir cintaku tengah aku masukkan dalam kulkas.
Kau aneh ! kau beku ! kau diam ! kau biarkan aku merinaikan air mataku. Kau paksa aku melihatmu mengecup abangku. Aku tak mau ! kau hanya milikku. Aku menangis sejadi-jadinya. Ku pecah beku ini bersama secangkir cintaku yang seketika beku. Semuanya pecah, seolah beling yang mengiris dadaku. Ada sesak yang tak kutahu di mana. Dan aku memilih pergi !
*
Entah kenapa hari ini hujan tak henti-hentinya mengangguku. Serta obrolan kita tentang hujan malam itu terus saja memekakkan telingaku. Ku coba menepisnya dengan mendengarkan lagu sekencang-kencangnya. Tapi, hujan masih lebih heboh di luar sana. Aku mengalah, aku harus pulang meski ada sesak yang tak ku tahu dimana.
Ku temui abangku tengah duduk memeluk lututnya seperti mengutuki hujan. Ada banyak orang dalam rinai ini. Ah, bukan ! ini bukan rinai yang biasa. Ku lihat mata sembab abangku menyatu dengan kubangan air yang ada dihadapannya seraya bercermin meratapi penyesalannya telah membuatku marah pagi ini.
Ini sudah sore, bahkan telah menjelang magrib dan aku tak menemukanmu. Seharusnya aku yang marah hingga aku harus meninggalkanmu dulu untuk menghilangkan sesak itu. Tapi, kenapa justru kau yang pergi. Sesak ini makin menjadi, ada linang yang terus membasahi sudut mataku hingga berinai dengan hujan.
Ah, rupanya abangku tidak menyesal karena membuatku marah justru ia merindukan wanitaku yang pergi. Kau beruntung abang, sempat mengecap hangatnya kecupan dari sepotong bibir wanitaku. Itu jatahku yang kau rebut tepat dihadapanku, dan karena tak enak padaku, maka ia memilih pergi. Wanitaku pergi !
*
Anak-anak bermain hujan, mereka lupa akan kehilangan
Saat masih kecil, aku dan abangku senang mengasup mie kuah
Kadang semangkuk untuk mie dibagi dua
Aku tahu dan abangku juga
Kalau ibu kadang curang membagi.
Aku kadang mendapat lebih banyak kuah dari abangku
Dan karena itu, kami kadang bertengkar.
Aku menangis, karena kalah atau kena pukul

Kali ini, Bu, aku menangis
Karena kehilanganmu, dan hati yang masih terpukul
Aku ingin menjadi semangkuk mie itu
Lalu kubagi dua
Satu untuk ibu, satu untuk Tuhan
Walau sebenarnya Tuhan juga tahu aku curang
Karena memberimu lebih banyak kuah dari mataku.
Ini sudah tahun ke sepuluh, dimana aku merindukan secangkir teh dan semangkuk mie buatanmu. Adapula botol air minumku yang telah kering dan usang dimakan usia, sudah lama kau meninggalkanku wanitaku, wanitaku yang tak pernah sedetikpun lepas dari pelupukku.
Aku ingat saat kau mendekapku dalam selimut yang membungkus kita berdua sambil terus bercerita tentang makna hujan yang kubawa hingga terlelap. Saat itu aku masih belum mengerti, dan sekarang aku tahu kau ada dalam rinai karena aku menemukan rasa di sana. Kau menyimpan rasa dalam hujan dan aku menciptakan rasa itu untukku.
Saat itu aku memecahkan secangkir teh ku, dan selayaknya beling itu telah mengirisku. Aku luka saat itu dan telah kubeli cangkir baru untuk menyimpan tetesan tehmu yang kucampur hujan untuk aku persembahkan padamu di penghujung hujan. Ada secangkir teh dalam mangkuk mie-mu, mangkuk mie yang kuisi kuah air mataku dan abang.
*
Saat itu, kau tersenyum padaku. Menanyakan apakah teh buatanmu sudah manis atau belum ? dan seperti biasa, anggukanku akan membuatmu puas dan merasa bangga telah melayaniku.
Kutepis bayang itu, dingin merasuk hingga rusuk. Aku menggapai tanganmu dan kaupun mengenggamnya dengan erat. Kau menarik tanganku pelan mengajakku berjalan menikmati embun pagi ini.
Kupandang lekat-lekat wajahmu, ku baca setiap linang di sudut matamu. Sepertinya kau kelelahan, tak kuasa aku memandang. Kau masih saja tersenyum. Maaf aku membuatmu kelelahan, aku terlalu rewel pagi ini. Itu karena aku cemburu pada kedua lelaki yang sedari tadi memaksamu memperhatikannya. Tak lain ia abangku dan ayahku. Maaf Ibu, bukan maksudku membuatmu kelelahan.
Kau hanya tersenyum membelai wajahku dan mengecup keningku. Kita kembali duduk pada balai bambu memandangi sawah yang menghampar di depan rumah, kitapun sama-sama menghidangkan secangkir teh. Kau memberiku teh buatanmu dan aku memberikan secangkir cinta dalam mangkuk yang kuisi air mataku dan abang.
Aku menggapai tanganmu, dan kutemukan aku seorang diri mengepalkan tanganku dibawah bantal didalam selimut yang membungkus tubuhku. Aku memelukmu sangat erat, tak ingin melepaskanmu, meski kutahu, fotomu telah lama usang karena pelukanku.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar