Aku
RINDU
Kau
seduh aku dalam gelas
Di
aduk pelan
Lalu
kau beri sedikit gula.
Saat itu, kau tersenyum padaku. Menanyakan
apakah teh buatanmu sudah manis atau belum ? dan seperti biasa, anggukanku akan
membuatmu puas dan merasa bangga telah melayaniku.
*
Pagi ini kau membangunkanku dengan aroma teh
mu yang khas. Kau pun tersenyum dan memaksaku segera menanggalkan
mimpi-mimpiku, meski kau tahu pasti mimpiku tak lain hanyalah tentangmu.
Tentangmu wanitaku yang tak pernah hilang dari pelupukku. Kuteguk teh buatanmu.
Tak peduli pekat, hanya manis yang meresap karena kau menemaniku menyeruputnya.
Pagi ini kau tampak lain dari biasanya, kau
terlihat begitu manis dan menawan. Entah kenapa, mungkin kau ingin menarikku
lebih dalam terhadapmu. Tenanglah wanitaku, kau akan terus menjadi wanitaku
yang terindah. Kau mengusap keningku dan mengecupnya sehingga membuat lelaki di
sebelahku mencibir cemburu. Ah, biar saja ! kau tahu itu abangku, biar saja dia
cemburu. Toh akulah yang justru berhasil menarikmu kepelukanku, begitupun
sebaliknya.
*
Kali ini kau nampak lelah, ingin ku genggam
tanganmu, lalu kuusap keningmu dan mengecupnya. Tapi itu ku tahan, bukan karena
terlalu tega, tapi karena aku tak tahu bagaimana caranya. Biarlah aku
menanggung lelahmu dengan caraku. Dengan perasaan tidak enakku dan segenap
cinta –kasih yang kucipta khusus untukmu.
“Ini sebotol teh untuk kau bawa. Jangan lupa
di minum dan cepat pulang!” kau menyodorkanku sebotol teh buatanmu.
Ah, pagi ini aku sudah menyeruput habis
secangkir tehmu dan sekarang kau menodongku dengan botolanmu. Tapi tak apa,
karena dengan secangkir itu aku menyimpan tetes demi tetes cintaku.
*
“Makanlah !” Ucapmu getir saat menyajikan
makan siang untukku.
Semangkuk mie kuah yang dibagi dua dengan
abangku. Membuat sepasang mata kembali menguliti wajahku dengan geram. Marah
saja, kalau kau tak mau maka semuanya akan menjadi milikku.
Kau sangat tahu aku, kau tahu aku sangat suka
mengasup mie kuah buatanmu. Meski dengan begitu aku harus bertengkar dengan
abangku yang juga menginginkan perhatian yang sama darimu. Aku egois sebagai
seorang adik, tapi tak akan ku serahkan kau begitu saja dalam pelukannya.
Dan saat pertengkaran itu berlangsung, kau akan
memandangku lekat, seolah berbicara dengan mataku bahwa apapun yang terjadi kau
selalu milikku. Itu membuatku tenang. Terima kasih wanitaku, kau pandai
membacai air wajahku dan aku tak perlu berlama-lama dengan amarahku.
*
Hujan masih saja berinai, akupun ada disana.
Diantara hujan menarikan tarian cintaku padamu. Kau tersenyum geli,
menertawakan kekanakanku. Aku memang masih kanak-kanak, terlebih bila
berhadapan denganmu. Aku masih saja menari dan kau tahu ? abangku ikut pula
menari bersamaku, betul-betul keras kepala. Dia itu sudah tahu kalau kau
milikku, tapi dia masih saja mencoba menarikmu dariku. Dan kali ini aku harus
mengalah. Kuserahkan hujan untuk abangku agar aku bisa menikmati dekapan
hangatmu malam ini.
“Kau tahu hujan ?” tanyamu padaku.
“Maksudnya ?” aku memang tak mengerti
maksudmu, aku justru hanya ingin menertawai pertanyaan polosmu.
“Dalam hujan kau belajar rasa sayang, dalam
hujan kau menemukan rasa sayang dan dalam hujan kau menciptakan rasa sayang
itu.” Aku diam, selain karena tidak mengerti, tapi juga kantuk telah
menggerogoti mataku. Aku hanya memelukmu erat, sangat erat dari biasanya,
dekapanmu begitu hangat hingga sulit aku tepis. Biarkan aku untuk terus
memelukmu wanitaku.
*
Bulan ini adalah penghujung tahun, dimana
hujan sedang semangat-semangatnya bersenandung bersama petir, dan angin yang
kencang. Dan aku masih disini, dalam dekapan hangatmu. Kau membelai rambut ku,
membangunkanku untuk segera memulai aktifitasku. Andai aku bisa memilih,
izinkan aku untuk tetap disini, didalam selimut yang membungkus kita berdua.
Tapi, untuk menyenangkan hatimu kulangkahkan
kakiku ke kamar mandi mengutuki cuaca yang dingin sambil terus membayangkan
kehangatan pelukmu.
Seperti setiap pagi yang lain, kau ada
disana. Di sudut meja makan, menungguku bersama abangku yang sentimental dengan
secangkir teh buatanmu. Secangkir teh yang kusisihkan satu tetes untuk
secangkir cintaku.
Tak ada percakapan pagi ini, bukan hanya hawa
di luar sana yang menjadi dingin, tapi di dalam pun demikian, semua beku, serasa
secangkir cintaku tengah aku masukkan dalam kulkas.
Kau aneh ! kau beku ! kau diam ! kau biarkan
aku merinaikan air mataku. Kau paksa aku melihatmu mengecup abangku. Aku tak
mau ! kau hanya milikku. Aku menangis sejadi-jadinya. Ku pecah beku ini bersama
secangkir cintaku yang seketika beku. Semuanya pecah, seolah beling yang
mengiris dadaku. Ada sesak yang tak kutahu di mana. Dan aku memilih pergi !
*
Entah kenapa hari ini hujan tak
henti-hentinya mengangguku. Serta obrolan kita tentang hujan malam itu terus
saja memekakkan telingaku. Ku coba menepisnya dengan mendengarkan lagu
sekencang-kencangnya. Tapi, hujan masih lebih heboh di luar sana. Aku mengalah,
aku harus pulang meski ada sesak yang tak ku tahu dimana.
Ku temui abangku tengah duduk memeluk lututnya
seperti mengutuki hujan. Ada banyak orang dalam rinai ini. Ah, bukan ! ini
bukan rinai yang biasa. Ku lihat mata sembab abangku menyatu dengan kubangan
air yang ada dihadapannya seraya bercermin meratapi penyesalannya telah
membuatku marah pagi ini.
Ini sudah sore, bahkan telah menjelang magrib
dan aku tak menemukanmu. Seharusnya aku yang marah hingga aku harus
meninggalkanmu dulu untuk menghilangkan sesak itu. Tapi, kenapa justru kau yang
pergi. Sesak ini makin menjadi, ada linang yang terus membasahi sudut mataku
hingga berinai dengan hujan.
Ah, rupanya abangku tidak menyesal karena
membuatku marah justru ia merindukan wanitaku yang pergi. Kau beruntung abang,
sempat mengecap hangatnya kecupan dari sepotong bibir wanitaku. Itu jatahku
yang kau rebut tepat dihadapanku, dan karena tak enak padaku, maka ia memilih
pergi. Wanitaku pergi !
*
Anak-anak
bermain hujan, mereka lupa akan kehilangan
Saat
masih kecil, aku dan abangku senang mengasup mie kuah
Kadang
semangkuk untuk mie dibagi dua
Aku
tahu dan abangku juga
Kalau
ibu kadang curang membagi.
Aku
kadang mendapat lebih banyak kuah dari abangku
Dan
karena itu, kami kadang bertengkar.
Aku
menangis, karena kalah atau kena pukul
Kali
ini, Bu, aku menangis
Karena
kehilanganmu, dan hati yang masih terpukul
Aku
ingin menjadi semangkuk mie itu
Lalu
kubagi dua
Satu
untuk ibu, satu untuk Tuhan
Walau
sebenarnya Tuhan juga tahu aku curang
Karena
memberimu lebih banyak kuah dari mataku.
Ini sudah tahun ke sepuluh, dimana aku
merindukan secangkir teh dan semangkuk mie buatanmu. Adapula botol air minumku
yang telah kering dan usang dimakan usia, sudah lama kau meninggalkanku
wanitaku, wanitaku yang tak pernah sedetikpun lepas dari pelupukku.
Aku ingat saat kau mendekapku dalam selimut
yang membungkus kita berdua sambil terus bercerita tentang makna hujan yang
kubawa hingga terlelap. Saat itu aku masih belum mengerti, dan sekarang aku
tahu kau ada dalam rinai karena aku menemukan rasa di sana. Kau menyimpan rasa
dalam hujan dan aku menciptakan rasa itu untukku.
Saat itu aku memecahkan secangkir teh ku, dan
selayaknya beling itu telah mengirisku. Aku luka saat itu dan telah kubeli
cangkir baru untuk menyimpan tetesan tehmu yang kucampur hujan untuk aku
persembahkan padamu di penghujung hujan. Ada secangkir teh dalam mangkuk
mie-mu, mangkuk mie yang kuisi kuah air mataku dan abang.
*
Saat itu, kau tersenyum padaku. Menanyakan
apakah teh buatanmu sudah manis atau belum ? dan seperti biasa, anggukanku akan
membuatmu puas dan merasa bangga telah melayaniku.
Kutepis bayang itu, dingin merasuk hingga
rusuk. Aku menggapai tanganmu dan kaupun mengenggamnya dengan erat. Kau menarik
tanganku pelan mengajakku berjalan menikmati embun pagi ini.
Kupandang lekat-lekat wajahmu, ku baca setiap
linang di sudut matamu. Sepertinya kau kelelahan, tak kuasa aku memandang. Kau
masih saja tersenyum. Maaf aku membuatmu kelelahan, aku terlalu rewel pagi ini.
Itu karena aku cemburu pada kedua lelaki yang sedari tadi memaksamu
memperhatikannya. Tak lain ia abangku dan ayahku. Maaf Ibu, bukan maksudku
membuatmu kelelahan.
Kau hanya tersenyum membelai wajahku dan
mengecup keningku. Kita kembali duduk pada balai bambu memandangi sawah yang
menghampar di depan rumah, kitapun sama-sama menghidangkan secangkir teh. Kau
memberiku teh buatanmu dan aku memberikan secangkir cinta dalam mangkuk yang
kuisi air mataku dan abang.
Aku menggapai tanganmu, dan kutemukan aku
seorang diri mengepalkan tanganku dibawah bantal didalam selimut yang
membungkus tubuhku. Aku memelukmu sangat erat, tak ingin melepaskanmu, meski
kutahu, fotomu telah lama usang karena pelukanku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar