Kamis, 26 Juni 2014

Maaf, karena Aku Mencintaimu.


Bukan salahmu...
Aku memang seperti ini, dengan apa adanya diriku.
Bukan salahmu...
Suasananya memang sudah seperti itu.
Imajiku melambung jauh, menembus ke setiap masa. Masa yang lalu maupun yang akan datang, semuanya berkelebat dalam benakku. Bayangmu menari di sana, diantara yang lalu dan yang datang.
Adakah kau akan menyambutku ? atau kau akan berlalu ?
Ku lihat senyum tipis itu di sana, menyentakku dan mengingatkanku bahwa kau bukan milikku. Kau pun menari dengan segala tarian yang tak pernah bisa aku lupakan. Tarian-tarian sakralmu yang akan terus meliuk-liuk dan menginjak-injak rongga jiwaku.
Adakah kau masih akan bertahan di situ ? menantikan ku bermain bersamamu, bermain bersama diam mu dan bernyanyi dengan sunyi mu.
Tiba-tiba kau berteriak !
Suaramu memekik telingaku, seakan-akan gendang telingaku ingin pecah mengeluarkan darah dan rintihan mu.
Aku sadar, kau tak ada lagi di sana. Tak ada kau yang setia menemaniku, menungguku untuk bermain dan bernyanyi bersamamu.
*
Kulepaskan bayanganku dari lukisan itu, lukisan senja yang kita lukis bersama dikala hujan mematungkan kita di dermaga tua itu, Dermaga Maccini Baji. Tak akan pernah bisa untuk aku lupa. Ya, dermaga itu lah yang telah mempertemukan kita. Dermaga tua yang telah melukis kisah antara kau, aku dan dia yang menjadi milik kita berdua. Maccini Baji yang dalam bahasa kita “Maccini” berarti melihat atau memperlihatkan dan “Baji” yang berarti kebaikan. Dan akupun berfikir demikian, dermaga itu telah memperlihatkanku terhadapmu yang baik untuk selalu aku pandang.
 “Oh... berteduh di sini juga kak ?” katamu waktu itu saat melihat ku bersama dengan Dia yang menjadi milikku.
“Ah, iya... hujan begitu lebat. Kau datang dengan siapa ?” basa-basi, terpaksa itu kutanyakan untuk menyembunyikan gugup terhadap bibirku yang kelu. Entah karena cuaca yang dingin atau karena melihat sosok mu.
“Ya.. bisa kakak lihat sendiri.” Kau pun menyodorkan tangan dia yang datang bersamamu untuk berkenalan dengan ku.
Kupandangi sosok yang menjabat tanganku, tak ku temukan keistimewaan di sana. Ah.. aku heran, apa yang kau lihat darinya ? aku masih lebih baik darinya !
“Hahahahahahaha.... sudah lah !” tawaku mengenang pertemuanku lagi dengan mu waktu itu. Kau yang begitu suka dengan hujan yang selalu tersenyum lebar memandangi langit yang mendung menumpahkan airnya. Kau yang selalu menyentakku dengan senyum dan keluguan matamu.
*
Mata yang lugu itu kembali terlihat, cukup lama aku menunggu. Bibirmu seketika merekah dan membagikan kata maaf padaku. Ya, meskipun kau tak meminta maaf padaku, aku akan tetap setia tuk menantimu, menanti tiap senyummu yang selalu membuatku tak jemu memikirkanmu, menantikan sepasang bola mata bulat yang terus memancarkan keluguan hatimu.
Kau yang telah menebarkan auramu di hadapanku. Membuatku menghambakan diri pada kesempurnaan paras, sikap dan segala hal tentangmu. Ya, ini semua bukan salah mu, sehingga kita bergelut dalam kubangan cinta yang kita buat bersama. Kau yang sudah aku puja sejak dulu, sejak kau masih belum mengenal siapa aku.
“Tidak apa-apa, aku pun baru beberapa menit di sini.” Jawabku singkat. Kupandangi wajahmu lebih dalam, kau tampak lebih manis hari ini. Kau sungguh-sunggu telah dewasa.
“Ow.. maaf, tadi ada keperluan di rumah. Silahkan lanjutkan diskusinya.” Aku pun tersadar, bukan aku seorang yang ada di ruangan ini, ada banyak orang di sini. Dan, permintaan maaf tadi bukan cuma untukku, tapi untuk semua orang yang ada di sini, bukan untukku semata. Ah.. kasihan sekali aku, anganku terlalu jauh terhadapmu.
Kau sangat manis hari ini, bagaimana kabarmu ?
Ku beranikan diriku mengirimkan pesan singkat itu kepadamu. Kau pun tersenyum, lebih manis dari yang ku duga. Matamu melirikku, menyiratkan bahwa aku ada-ada saja. Aduh.. kau sangat polos ! Kau pun tak membalas pesan ku, senyummu sudah mewakili bahwa kau memang sangat manis dan yang terpenting, kau baik-baik saja.
*
“Mengapa kau menyukaiku ? padahal kau tahu bahwa aku telah berdua !” tanyamu saat ku ungkap perasaan ku padamu. Bukan hanya suka asal kau tahu, tapi hasratku lebih dalam lagi untuk memilikimu.
“Lantas kenapa kau menyambut rasa suka ku terhadapmu ?” tanyaku tanpa menjawab. Kau terdiam, entah apa arti dari diam mu. Apakah kau diam karena merasakan hal yang sama dengan ku, atau kau diam karena memang tak mau mengutuki kelancanganku padamu.
“Tak perlu jawab apa-apa, nikmati saja kejujuranku ini !”
Kau tersentak mendengar kata-kataku. Mungkin kau berfikir bahwa aku sudah gila ! Ya.. aku memang sudah gila, gila terhadapmu ! kau jauh lebih pendiam hari ini, sesal itu seketika menyelinap dalam hatiku. Tapi.. ah, sudah lah.. kau memang harus tahu itu semua.
*
Sejak pertemuan malam itu, dan saat aku mengantarkan mu pulang. Kita pun mulai akrab, bukan sekedar pesan singkat yang selalu bertengger pada telepon genggam ku, tapi juga pertemuan-pertemuan selanjutnya. Hari-hari kita berdua mulai berwarna, dengan dalih diskusi tentang organisasi kampus, kau dan aku makin bersua dalam rinduku tentangmu.
Puas melihatmu hari ini :D
Pesan itu pun terkirim, dengan harapan kau akan berbunga-bungan membacanya. Dasar kau bunga hatiku ! seakan ada yang menggelitik, aku tak jemu-jemu tuk terus tersenyum menantikan balasan pesan singkat darimu.
Tapi nihil ! tak ku temukan jawaban di sana, ada apa gerangan ?
“Halo, lagi ngapain ? entah kenapa malam ini perasaan ku kurang enak. Sepertinya ada sebuah virus yang menjalar dalam tubuhku.” Hatiku tersentak, menerima telpon dari mu, kau sakit ?
“Em.. sakit apa Risma ? Maaf kalau pulangnya kemalaman, jangan-jangan kau masuk angin.” Jawabku dengan perasaan bersalah.
“Ah, tidak kok ! sepertinya aku terkena virus yang berasal dari laptop ku tadi.” Kau terdiam sejenak membuatku tersenyum-senyum sendiri mencerna kata-katamu barusan. Seketika aku teringat saat aku memperbaiki laptop mu yang tiba-tiba mati karena terkena virus. Tak ada kata yang mampu keluar. Ah, kau begitu pandai mengambil hatiku.
“Kak Syarif...”
“Iya, kenapa Risma ?” jawabku tak sabar menunggu kata-katamu selanjutnya. Lama kau terdiam, membuatku mereka-reka tentang apa yang akan kau ungkapkan padaku. Adakah kau akan menyanjungku lagi ?
“Menurutku semua ini adalah salah...!! tak sepatutnya kita seperti ini. Aku merasa bersalah dengan Dia.” Tuturmu tegas !
Aku terpatung, ada banyak alasan yang kau ucapkan. Tapi, tak ada satupun yang tersangkut di telingaku, yang terfikirkan di benakku bukanlah semua alasan yang kau uraikan maupun segala bentuk rasa bersalah dan penyesalanmu. Satu-satunya yang terfikirkan dalam benakku saat ini adalah bagaimana aku jika kau lebih memilih Dia? Sosokmu yang sedari tadi menggelitik hatiku berbalik meninggalkan hatiku.
“Aku tak ingin menyakiti hati Dia !” kata itu terngiang terus dalam benakku, tak kudengar lagi kau berceloteh diseberang sana, kau turut terpaku dalam sunyi yang ku saji.
“Dia...? Dia siapa yang kau maksud ? Dia yang telah menjadi milikku atau dia yang menjadi milikmu ?”
“Keduanya ! Mereka terlalu baik untuk di khianati.”
“Mereka tak tahu apa yang terjadi antara kita berdua, kau tak perlu takut ! biarkan saja ini mengalir apa adanya.”
Ya, kau tak perlu takut, karena aku sendiri tak kuasa mengendalikan rasa takutku terhadapmu. Sudah sejak lama aku menjadi pemujamu dan saat kau mulai untuk aku rengkuh kau ingin lepas dalam pelukan ku ? Maaf, tak semudah itu kau tuk pergi !
*
Perbincangan malam itu membuatmu menjauhiku. Kau membuatku nelangsa ! semudah itu kah kau tuk meninggalkan hatiku yang telah kubagi untuk mu ? Memang benar, mereka terlalu baik untuk kita khianati. Tapi dia yang ku miliki tak lebih dari kau yang kupuja.
Aku gelisah.. :(
Pesan itu pun ku kirim untuk mu. Tak ku dapat balasan di sana, tak juga deringan telpon yang selalu mengganti pesan mu. Apa betul kau ingin meninggalkanku?
resah jiwaku menepi, mengingat semua yang terlewati
saat kau masih ada di sisi, mendekapku dalam hangatnya cintamu..
lambat sang waktu berganti, endapkan laraku di sini..
coba tuk lupakan bayangan dirimu
yang selalu saja memaksa tuk merindumu
sekian lama aku mencoba menepikan diriku di redupnya hatiku
letih menahan, perih yang kurasakan
walau ku tahu, ku masih mendambamu...
Hanya itu, lagu dari Band Naff yang terus mengalun menemani sepiku akan hadirmu. Selalu setia aku dengarkan melalui telepon genggam milikku. Sekian lama aku mencoba menepikan diriku di redupnya hatiku, ya.. hatiku telah redup sesaat setelah kau menghilang. Letih menahan, perih yang kurasakan, adakah kau rasa perihku Risma ? Walau ku tahu, ku masih mendambamu.. yah.. aku masih mendambamu. Ya... seperti judul lagu itu “Terendap Laraku”.
*
“Kau tak suka lagi padaku ? aku memujamu sejak dulu. Saat itu kau belum mengenalku bahkan belum melirikku. Tolong fikirkan, usah kau hiraukan rasa mereka. Toh, mereka tak tau apa yang kita rasa.” Ya.. itulah kata-kataku padamu, saat kuberanikan diriku untuk menelpon mu untuk menanyakan rasamu padaku.
“Aku pun telah membagi hatiku sesaat setelah pertemuan di dermaga itu. Entah sejak kapan rasa itu ada, namun baru terasa saat aku melihatmu bersama dia yang memilikimu.” Ucapmu dari balik telepon.
Aku terdiam sejenak, mereka-reka perasaan mu padaku, ternyata cintaku tersambut. “Tapi, kenapa kau lebih memilih dia ? rasaku lebih dalam darinya, lagi pula kau kan merasakan hal yang sama padaku?” Tanyaku lagi padamu.
“Aku telah belajar tentang apa itu hati yang terbagi. Aku telah membagi hatiku untukmu sejak dulu, sehingga aku selalu mencari belahan dari hatiku padamu. Mencintaimu membiarkanku membagi hatiku untuk aku cari tanpa aku rengkuh. Tapi, aku juga belajar bagaimana menerima hati. Hati bukan hanya untuk dibagi, tapi juga untuk di terima. Dan sekarang aku memutuskan untuk menerima.”
*
Aku sudah melakukannya, memberikan mu sepotong hati yang sudah aku simpan sejak dulu. Entahlah... apakah kau akan menyimpannya hingga ia membusuk tanpa arti. Atau kau langsung memakannya, hingga itu dapat meresap ke aliran darahmu hingga ke jantungmu. Semoga dengan itu, di setiap hembusan nafasmu dan setiap detak jantungmu kau akan terus mengingat namaku.
Tapi ternyata.... tidak !
Aku sudah melakukannya sejak dulu, membagi dua hatiku untuk mu dan untuknya yang kumiliki. Meskipun kau tak menyambut, tapi hatiku masih tetap mengharapkan mu.
Desahanmu dan desahannya sangat jauh berbeda. Dimana setiap waktu yang kulaui selalu membuatku lebih memikirkanmu dibandingkan dia. Maaf... maafkan aku jika aku salah !
Ah.. seperti kataku, nikmati sajalah ! mungkin ini yang terbaik untuk kita. Akupun tak pernah memintamu untuk membalas sepotong hati pemberianku, melainkan cukup dengan kau melihat isi bingkisan yang terabaikan dariku. Sepotong hati yang kubagi dua untuk mu dan untuk dia yang kumiliki.
Mencintaimu adalah pilihan ku dan dicintai adalah pilihan mu. Mungkin dengan cara seperti itu kau bisa mengenangku sekaligus menjalani kehidupan mu dengan dia yang memilikimu, yang telah memberikan sepotong hatinya yang dalam.
Maafkan aku jika kau telah membuatmu merasa bersalah dengan semua ini. Maafkan aku yang sudah melibatkan mu dalam kubangan cinta yang sudah lama ada dalam hatiku.
Maafkan aku telah menghadirkan mu dalam setiap nafas dan ingatan ku, maafkan aku jika aku masih sering membandingkanmu dengan dia yang menjadi milikku. Toh, dia juga tak tahu apa yang terjadi antara kita. Biarlah aku mengenang dalam diamku terhadapmu.
Izinkan aku untuk terus memuja dan mencintaimu dengan sepotong hatiku yang sebentar lagi akan beku seiring lenyapnya hangat suaramu. Aku akan tetap setia tuk menantimu, menanti tiap senyummu yang selalu membuatku tak jemu memikirkanmu, menantikan sepasang bola mata bulat yang terus memancarkan keluguan hatimu.
Maaf jika selama ini kau tersiksa dengan sepotong hati yang selalu kau cari dan ingin kau rengkuh, sepotong hati milikku yang ternyata lebih diharapkan oleh dia yang menjadi milikku hingga kau menjauh.
Maafkan aku, maaf jika cintamu dan cintaku hanya untuk di rasakan tanpa harus kita miliki, maafkan aku yang begitu egois tuk tetap mengurungmu dalam imajiku, maafkan aku, karena aku mencintaimu.

Labakkang, 20 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar