Bukan salahmu...
Aku memang seperti ini, dengan apa
adanya diriku.
Bukan salahmu...
Suasananya memang sudah seperti
itu.
Imajiku melambung jauh, menembus ke
setiap masa. Masa yang lalu maupun yang akan datang, semuanya berkelebat dalam
benakku. Bayangmu menari di sana, diantara yang lalu dan yang datang.
Adakah kau akan menyambutku ? atau
kau akan berlalu ?
Ku lihat senyum tipis itu di sana,
menyentakku dan mengingatkanku bahwa kau bukan milikku. Kau pun menari dengan
segala tarian yang tak pernah bisa aku lupakan. Tarian-tarian sakralmu yang
akan terus meliuk-liuk dan menginjak-injak rongga jiwaku.
Adakah kau masih akan bertahan di
situ ? menantikan ku bermain bersamamu, bermain bersama diam mu dan bernyanyi
dengan sunyi mu.
Tiba-tiba kau berteriak !
Suaramu memekik telingaku,
seakan-akan gendang telingaku ingin pecah mengeluarkan darah dan rintihan mu.
Aku sadar, kau tak ada lagi di
sana. Tak ada kau yang setia menemaniku, menungguku untuk bermain dan bernyanyi
bersamamu.
*
Kulepaskan bayanganku dari lukisan
itu, lukisan senja yang kita lukis bersama dikala hujan mematungkan kita di
dermaga tua itu, Dermaga Maccini Baji. Tak akan pernah bisa untuk aku lupa. Ya,
dermaga itu lah yang telah mempertemukan kita. Dermaga tua yang telah melukis
kisah antara kau, aku dan dia yang menjadi milik kita berdua. Maccini Baji yang
dalam bahasa kita “Maccini” berarti melihat atau memperlihatkan dan “Baji” yang
berarti kebaikan. Dan akupun berfikir demikian, dermaga itu telah memperlihatkanku
terhadapmu yang baik untuk selalu aku pandang.
“Oh... berteduh di sini juga kak ?” katamu
waktu itu saat melihat ku bersama dengan Dia yang menjadi milikku.
“Ah, iya... hujan begitu lebat. Kau
datang dengan siapa ?” basa-basi, terpaksa itu kutanyakan untuk menyembunyikan
gugup terhadap bibirku yang kelu. Entah karena cuaca yang dingin atau karena
melihat sosok mu.
“Ya.. bisa kakak lihat sendiri.”
Kau pun menyodorkan tangan dia yang datang bersamamu untuk berkenalan dengan
ku.
Kupandangi sosok yang menjabat
tanganku, tak ku temukan keistimewaan di sana. Ah.. aku heran, apa yang kau
lihat darinya ? aku masih lebih baik darinya !
“Hahahahahahaha.... sudah lah !”
tawaku mengenang pertemuanku lagi dengan mu waktu itu. Kau yang begitu suka
dengan hujan yang selalu tersenyum lebar memandangi langit yang mendung
menumpahkan airnya. Kau yang selalu menyentakku dengan senyum dan keluguan
matamu.
*
Mata yang lugu itu kembali
terlihat, cukup lama aku menunggu. Bibirmu seketika merekah dan membagikan kata
maaf padaku. Ya, meskipun kau tak meminta maaf padaku, aku akan tetap setia tuk
menantimu, menanti tiap senyummu yang selalu membuatku tak jemu memikirkanmu,
menantikan sepasang bola mata bulat yang terus memancarkan keluguan hatimu.
Kau yang telah menebarkan auramu di
hadapanku. Membuatku menghambakan diri pada kesempurnaan paras, sikap dan
segala hal tentangmu. Ya, ini semua bukan salah mu, sehingga kita bergelut
dalam kubangan cinta yang kita buat bersama. Kau yang sudah aku puja sejak
dulu, sejak kau masih belum mengenal siapa aku.
“Tidak apa-apa, aku pun baru
beberapa menit di sini.” Jawabku singkat. Kupandangi wajahmu lebih dalam, kau
tampak lebih manis hari ini. Kau sungguh-sunggu telah dewasa.
“Ow.. maaf, tadi ada keperluan di
rumah. Silahkan lanjutkan diskusinya.” Aku pun tersadar, bukan aku seorang yang
ada di ruangan ini, ada banyak orang di sini. Dan, permintaan maaf tadi bukan
cuma untukku, tapi untuk semua orang yang ada di sini, bukan untukku semata.
Ah.. kasihan sekali aku, anganku terlalu jauh terhadapmu.
Kau sangat manis
hari ini, bagaimana kabarmu ?
Ku beranikan diriku mengirimkan
pesan singkat itu kepadamu. Kau pun tersenyum, lebih manis dari yang ku duga.
Matamu melirikku, menyiratkan bahwa aku ada-ada saja. Aduh.. kau sangat polos !
Kau pun tak membalas pesan ku, senyummu sudah mewakili bahwa kau memang sangat
manis dan yang terpenting, kau baik-baik saja.
*
“Mengapa kau menyukaiku ? padahal
kau tahu bahwa aku telah berdua !” tanyamu saat ku ungkap perasaan ku padamu.
Bukan hanya suka asal kau tahu, tapi hasratku lebih dalam lagi untuk
memilikimu.
“Lantas kenapa kau menyambut rasa
suka ku terhadapmu ?” tanyaku tanpa menjawab. Kau terdiam, entah apa arti dari
diam mu. Apakah kau diam karena merasakan hal yang sama dengan ku, atau kau
diam karena memang tak mau mengutuki kelancanganku padamu.
“Tak perlu jawab apa-apa, nikmati
saja kejujuranku ini !”
Kau tersentak mendengar
kata-kataku. Mungkin kau berfikir bahwa aku sudah gila ! Ya.. aku memang sudah
gila, gila terhadapmu ! kau jauh lebih pendiam hari ini, sesal itu seketika
menyelinap dalam hatiku. Tapi.. ah, sudah lah.. kau memang harus tahu itu
semua.
*
Sejak pertemuan malam itu, dan saat
aku mengantarkan mu pulang. Kita pun mulai akrab, bukan sekedar pesan singkat
yang selalu bertengger pada telepon genggam ku, tapi juga pertemuan-pertemuan
selanjutnya. Hari-hari kita berdua mulai berwarna, dengan dalih diskusi tentang
organisasi kampus, kau dan aku makin bersua dalam rinduku tentangmu.
Puas melihatmu
hari ini :D
Pesan itu pun terkirim, dengan
harapan kau akan berbunga-bungan membacanya. Dasar kau bunga hatiku ! seakan
ada yang menggelitik, aku tak jemu-jemu tuk terus tersenyum menantikan balasan
pesan singkat darimu.
Tapi nihil ! tak ku temukan jawaban
di sana, ada apa gerangan ?
“Halo, lagi ngapain ? entah kenapa
malam ini perasaan ku kurang enak. Sepertinya ada sebuah virus yang menjalar
dalam tubuhku.” Hatiku tersentak, menerima telpon dari mu, kau sakit ?
“Em.. sakit apa Risma ? Maaf kalau
pulangnya kemalaman, jangan-jangan kau masuk angin.” Jawabku dengan perasaan
bersalah.
“Ah, tidak kok ! sepertinya aku
terkena virus yang berasal dari laptop ku tadi.” Kau terdiam sejenak membuatku
tersenyum-senyum sendiri mencerna kata-katamu barusan. Seketika aku teringat
saat aku memperbaiki laptop mu yang tiba-tiba mati karena terkena virus. Tak
ada kata yang mampu keluar. Ah, kau begitu pandai mengambil hatiku.
“Kak Syarif...”
“Iya, kenapa Risma ?” jawabku tak
sabar menunggu kata-katamu selanjutnya. Lama kau terdiam, membuatku mereka-reka
tentang apa yang akan kau ungkapkan padaku. Adakah kau akan menyanjungku lagi ?
“Menurutku semua ini adalah
salah...!! tak sepatutnya kita seperti ini. Aku merasa bersalah dengan Dia.”
Tuturmu tegas !
Aku terpatung, ada banyak alasan
yang kau ucapkan. Tapi, tak ada satupun yang tersangkut di telingaku, yang
terfikirkan di benakku bukanlah semua alasan yang kau uraikan maupun segala
bentuk rasa bersalah dan penyesalanmu. Satu-satunya yang terfikirkan dalam
benakku saat ini adalah bagaimana aku jika kau lebih memilih Dia? Sosokmu yang
sedari tadi menggelitik hatiku berbalik meninggalkan hatiku.
“Aku tak ingin menyakiti hati Dia
!” kata itu terngiang terus dalam benakku, tak kudengar lagi kau berceloteh
diseberang sana, kau turut terpaku dalam sunyi yang ku saji.
“Dia...? Dia siapa yang kau maksud
? Dia yang telah menjadi milikku atau dia yang menjadi milikmu ?”
“Keduanya ! Mereka terlalu baik
untuk di khianati.”
“Mereka tak tahu apa yang terjadi
antara kita berdua, kau tak perlu takut ! biarkan saja ini mengalir apa
adanya.”
Ya, kau tak perlu takut, karena aku
sendiri tak kuasa mengendalikan rasa takutku terhadapmu. Sudah sejak lama aku
menjadi pemujamu dan saat kau mulai untuk aku rengkuh kau ingin lepas dalam
pelukan ku ? Maaf, tak semudah itu kau tuk pergi !
*
Perbincangan malam itu membuatmu
menjauhiku. Kau membuatku nelangsa ! semudah itu kah kau tuk meninggalkan
hatiku yang telah kubagi untuk mu ? Memang benar, mereka terlalu baik untuk
kita khianati. Tapi dia yang ku miliki tak lebih dari kau yang kupuja.
Aku gelisah.. :(
Pesan itu pun ku kirim untuk mu.
Tak ku dapat balasan di sana, tak juga deringan telpon yang selalu mengganti
pesan mu. Apa betul kau ingin meninggalkanku?
resah
jiwaku menepi, mengingat semua yang terlewati
saat
kau masih ada di sisi, mendekapku dalam hangatnya cintamu..
lambat
sang waktu berganti, endapkan laraku di sini..
coba
tuk lupakan bayangan dirimu
yang
selalu saja memaksa tuk merindumu
sekian lama aku
mencoba menepikan diriku di redupnya hatiku
letih menahan,
perih yang kurasakan
walau ku tahu,
ku masih mendambamu...
Hanya itu, lagu dari Band Naff yang terus mengalun menemani
sepiku akan hadirmu. Selalu setia aku dengarkan melalui telepon genggam
milikku. Sekian lama aku mencoba menepikan diriku di redupnya hatiku, ya..
hatiku telah redup sesaat setelah kau menghilang. Letih menahan, perih yang
kurasakan, adakah kau rasa perihku Risma ? Walau ku tahu, ku masih mendambamu..
yah.. aku masih mendambamu. Ya... seperti judul lagu itu “Terendap Laraku”.
*
“Kau tak suka lagi padaku ? aku
memujamu sejak dulu. Saat itu kau belum mengenalku bahkan belum melirikku.
Tolong fikirkan, usah kau hiraukan rasa mereka. Toh, mereka tak tau apa yang
kita rasa.” Ya.. itulah kata-kataku padamu, saat kuberanikan diriku untuk
menelpon mu untuk menanyakan rasamu padaku.
“Aku pun telah membagi hatiku
sesaat setelah pertemuan di dermaga itu. Entah sejak kapan rasa itu ada, namun
baru terasa saat aku melihatmu bersama dia yang memilikimu.” Ucapmu dari balik
telepon.
Aku terdiam sejenak, mereka-reka
perasaan mu padaku, ternyata cintaku tersambut. “Tapi, kenapa kau lebih memilih
dia ? rasaku lebih dalam darinya, lagi pula kau kan merasakan hal yang sama
padaku?” Tanyaku lagi padamu.
“Aku telah belajar tentang apa itu
hati yang terbagi. Aku telah membagi hatiku untukmu sejak dulu, sehingga aku
selalu mencari belahan dari hatiku padamu. Mencintaimu membiarkanku membagi
hatiku untuk aku cari tanpa aku rengkuh. Tapi, aku juga belajar bagaimana
menerima hati. Hati bukan hanya untuk dibagi, tapi juga untuk di terima. Dan
sekarang aku memutuskan untuk menerima.”
*
Aku sudah melakukannya, memberikan
mu sepotong hati yang sudah aku simpan sejak dulu. Entahlah... apakah kau akan
menyimpannya hingga ia membusuk tanpa arti. Atau kau langsung memakannya,
hingga itu dapat meresap ke aliran darahmu hingga ke jantungmu. Semoga dengan
itu, di setiap hembusan nafasmu dan setiap detak jantungmu kau akan terus
mengingat namaku.
Tapi ternyata.... tidak !
Aku sudah melakukannya sejak dulu,
membagi dua hatiku untuk mu dan untuknya yang kumiliki. Meskipun kau tak menyambut,
tapi hatiku masih tetap mengharapkan mu.
Desahanmu dan desahannya sangat
jauh berbeda. Dimana setiap waktu yang kulaui selalu membuatku lebih
memikirkanmu dibandingkan dia. Maaf... maafkan aku jika aku salah !
Ah.. seperti kataku, nikmati
sajalah ! mungkin ini yang terbaik untuk kita. Akupun tak pernah memintamu
untuk membalas sepotong hati pemberianku, melainkan cukup dengan kau melihat
isi bingkisan yang terabaikan dariku. Sepotong hati yang kubagi dua untuk mu
dan untuk dia yang kumiliki.
Mencintaimu adalah pilihan ku dan
dicintai adalah pilihan mu. Mungkin dengan cara seperti itu kau bisa
mengenangku sekaligus menjalani kehidupan mu dengan dia yang memilikimu, yang
telah memberikan sepotong hatinya yang dalam.
Maafkan aku jika kau telah
membuatmu merasa bersalah dengan semua ini. Maafkan aku yang sudah melibatkan
mu dalam kubangan cinta yang sudah lama ada dalam hatiku.
Maafkan aku telah menghadirkan mu
dalam setiap nafas dan ingatan ku, maafkan aku jika aku masih sering
membandingkanmu dengan dia yang menjadi milikku. Toh, dia juga tak tahu apa
yang terjadi antara kita. Biarlah aku mengenang dalam diamku terhadapmu.
Izinkan aku untuk terus memuja dan
mencintaimu dengan sepotong hatiku yang sebentar lagi akan beku seiring
lenyapnya hangat suaramu. Aku akan tetap setia tuk menantimu, menanti tiap
senyummu yang selalu membuatku tak jemu memikirkanmu, menantikan sepasang bola
mata bulat yang terus memancarkan keluguan hatimu.
Maaf jika selama ini kau tersiksa
dengan sepotong hati yang selalu kau cari dan ingin kau rengkuh, sepotong hati
milikku yang ternyata lebih diharapkan oleh dia yang menjadi milikku hingga kau
menjauh.
Maafkan aku, maaf jika cintamu dan
cintaku hanya untuk di rasakan tanpa harus kita miliki, maafkan aku yang begitu
egois tuk tetap mengurungmu dalam imajiku, maafkan aku, karena aku mencintaimu.
Labakkang,
20 Februari 2014