Jumat, 10 April 2015

TERJAGA

waktu yang telah menjaga kita, justru membuat kita terjaga..
untuk memaknai waktu, aku memilih diam..
bukannya takut, aku tak tahu caranya memulai kata..

hujan perlahan turun..
pelan..
rintik-rintik, menyapa kita berdua.

entah apa yang telah membuat mu terjaga.
kita terdiam dalam ruang malam..
saling memandang dengan pikiran masing-masing.

a...
aku terbata, mengeja kata untuk sekedar memulai..
i...
kembali terbata, namun kau menoleh.

diam.
itu yang ku dapat

a.. m.... m... i..

leherku kering hingga tercekat.
tak ada yang dapat memaknainya,

ada sepotong duka di sana.
di balik hatimu yang lain.
menghapus keluh menjadi peluh yang keruh
mengantar mu semakin lama menjadi kerut.

kita masih terjaga dalam ruang malam
larut di sepertiga malam, duduk di belakang dzikirmu.
menguping setiap doa yang keluar, mengamini dengan segera.

a.. m.... m... i..

tak ada ada yang bisa menguping kita. Tuhan sekalipun !
karena kita saling berbincang dalam diam di sepertiga malam.

tunggu dulu...
Tuhan sekalipun ?
aku lupa Tuhan !
hujan perlahan turun..
pelan..
rintik-rintik, menyapa kita berdua.

aku lupa Tuhan !
yang sedari tadi sibuk menguping diam kita.

ada linang di sudut matamu..
tak terlihat pupil, hanya air yang menggenang.
menyeruput pahitnya hidup pada cangkir kopimu yang kering

kita semakin larut pada malam
menggoda waktu yang terkantuk
membuat binatang malam ikut penasaran

a.. m.... m... i..

tak ada kata,
kutahu kau tak paham.

aku percaya Tuhan kan melelapkanmu
setelah shalat lail mu...
sekedar menghilangkan penat.

aku minta maaf ibu !

itu yang ingin ku ucap.


Labakkang, 04 Maret 2015